Pernah seorang katekis (guru agama) melakukan visitasi, kunjungan ke keluarga-keluarga Katolik di suatu desa. Tibalah ke suatu keluarga yang kedua anak laki-lakinya amat bandel dan nakal. Ayah anak kecil itu meminta katekis untuk menasehati mereka. Katekis kemudian mendatangi kedua anak itu dan bertanya, “Kok kamu nakal sekali nak. Kamu tahu Tuhan itu dimana?” Kedua anak itu sangat gugup dan berjalan mundur, tetapi katekis terus bertanya, “Kamu tahu Tuhan dimana?”. Karena tidak bisa menjawab dan takut, mereka berjalan mundur makin cepat, Katekis terus bertanya dengan suara yang lebih keras, “Kamu tahu Tuhan dimana?” Kedua anak itu karena takut lari ke dalam rumah sambil masih mendengar pertanyaan suara keras katekis, “Tuhan dimana?” Anak-anak kemudian bersembunyi di kamar. Ketika suasana rumah sudah agak sepi, sang kakak membukakan pintu lemari tempat adiknya bersembunyi. Sang adik yang ketakutan berkata, “Wah kak kita celaka! Celaka ini!” Sang kakak balik bertanya, “Kenapa?” “Tuhan hilang kak. Dan kita yang dituduh menghilangkannya!” Kakak: ????
Apa yang perlu kita katakan kepada kedua anak itu? Tuhan tidak hilang. Tuhan ada dalam dirimu. Ketika Ia berbisik-bisik agar kamu jujur dan berbuat baik. Ia adalah Roh Kudus yang membimbing menjalani hidup ini. Tuhan ada dalam diri ayah dan ibu kita. Lewat kasih dan asuhan orang tua kita dapat menangkap Tuhan sebagai Bapa yang Mahabaik dan Mahakasih. Tuhan juga ada dalam peristiwa hidupmu, karena Tuhan itu selalu menyertai. Mungkin di saat kita sulit dan hidup susah tak ada harapan, Dia tidak hanya mendampingi, tetapi bisa jadi malah menggendong kita agar kita bertahan. Tuhan itu juga ditemui dalam bacaan Injil dan Kitab Suci. Dalam Injil kita melihat Tuhan dalam diri Yesus yang menderita di Salib untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia. Tuhan juga kita temui dalam kebersamaan hidup menggereja dan juga dalam upacara sakramen Gereja. Lewat Misa Kudus, kita mengenang dan merayakan hidup, kematian dan kebangkitan Yesus agar sekarang ini kita mengalami karya penyelamatan-Nya.
Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang komunikatif. Tuhan yang mendatangi dan menyapa manusia. Kita dapat menemui-Nya dimana pun. Hari ini kita merayakan pestanya, Pesta Tritunggal Yang Maha Kudus. “Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku" (Yoh 16: 15). Kalau kita mau, Tuhan dapat kita alami dan temui di mana pun dan kapan pun dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin
Suatu hari minggu anda bersama keluarga berkunjung ke rumah mertua. Di sana mertua mengajak istri dan anak-anak anda ke supermarket. Anda memilih untuk menunggu saja di rumah. Untuk mengusir rasa bosan, anda melihat-lihat rak di bawah TV dan menemukan sebuah DVD film bagus yang belum pernah anda tonton. Anda menyalakan TV dan DVD player. Film mulai berjalan. Tapi anda tidak nyaman dengan bahasa Inggris. Anda ingin memunculkan subtitle (teks) dalam bahasa Indonesia. Repotnya hari itu anda lupa membawa kacamata. Anda tidak tahu tombol mana di remote-nya yang harus ditekan untuk memunculkan teksnya. Anda mencoba satu per satu tombol di remote, sampai akhirnya menemukan tombol yang seharusnya. Suatu tombol gunanya adalah membantu kita, tapi kita harus tahu dulu, tombol mana yang harus ditekan.
Tahukah anda bahwa istri anda juga memiliki beberapa Tombol Cinta yang kalau ditekan maka akan membangkitkan rasa cinta istri anda kepada anda? Kalau anda salah tekan, maka bukannya cinta yang anda dapat, malah gerutuan atau kekesalan. :)
Tiap wanita memiliki Tombol Cinta yang berbeda, antara wanita yang satu dengan wanita yang lain. Anda harus menyelidiki terlebih dulu apa tombol cinta istri anda, supaya anda bisa menghidupkan kebahagiaan rumah tangga sepanjang waktu.
Beberapa wanita, memiliki tombol cinta yang akan hidup jika kita memberikan kata-kata pujian. Anda bisa memuji masakannya, penampilannya, pandainya dia mengurus anak, pandainya dia mengatur waktu, dan sebagainya. Kalau anda puji, dia akan tersenyum, mulanya canggung, kemudian akan melekat pada anda. Anda perlu belajar memuji jika istri anda memiliki tombol cinta ini :)
Tombol cinta yang lain akan hidup jika anda memberikan waktu anda yang special untuk istri anda. Anda menekan tombol cinta ini jika anda meluangkan waktu untuk mendengar cerita-ceritanya sepulang anda dari kantor atau di malam hari. Bisa juga tombol cinta ini akan hidup jika anda menemaninya berbelanja di supermarket. Lebih baik lagi jika anda memberikan waktu anda untuk berkencan berdua dengan istri anda di rumah makan atau bioskop.
Bisa jadi tombol cinta istri anda akan hidup jika anda memberikan hadiah untuknya. Hadiah dari seorang suami tidak harus mahal. Yang penting istri anda merasa diperhatikan dan diistimewakan dengan hadiah tersebut. Coba ingat-ingat barang-barang yang pernah dia bicarakan dan anda bisa menghadiahkannya sebagai kejutan sayang.
Seorang istri yang sibuk di rumah mungkin tombol cintanya adalah tindakan anda untuk membantunya dalam mengurus rumah. Anda boleh membantunya mencuci piring, menyapu, bermain dengan anak-anak, dsb yang seringkali membuatnya sibuk di rumah. Tindakan anda yang penuh kasih tentunya akan menghidupkan tombol cintanya.
Bukan tidak mungkin tombol cinta istri anda adalah sentuhan fisik dari anda. Istri anda suka untuk dipeluk, dielus-elus, dirangkul dan diajak bercinta. Kalau anda juga orang yang suka sentuhan fisik, bagus… Kalau anda merasa risih dengan memberikan sentuhan fisik, anda harus mempelajarinya demi kebahagiaan rumah tangga anda.
Istri anda mungkin saja memiliki satu, dua atau semua tombol cinta tsb. Anda boleh mencoba-cobanya sendiri, atau anda menanyakannya langsung kepada istri anda. Kalau ingin lebih romantis, anda harus mempelajari sendiri dong ya :) Tapi kalau mau lebih cepat, anda boleh koq menanyakannya langsung kepada istri anda. Yang penting kan supaya anda berdua tambah mesra…..
Seperti diajarkan di dalam Efesus 5:25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”. Mari kita lebih mengasihi istri kita dengan mengenali tombol-tombol cintanya dan menggunakannya untuk kebahagiaan rumah tangga kita. Mungkin tidak mudah untuk mengenali tombol-tombol cinta istri anda. Tapi sebagai perwujudan cinta anda, cobalah temukan tombol-tombol itu, sambil memberikan kasih anda pada istri dan menerima balasan kasih dari istri anda.
Selamat mengasihi….. Jangan salah tombol ya :)
Julius Saviordi
15 Mei 2013
www.priasejatikatolik.wordpress.com
Heboh bagi orang-orang Yahudi di seluruh dunia yang sedang berkumpul di Yerusalem ketika tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras (Kis 2: 2). Lebih aneh lagi mereka mendengar Petrus dan murid-murid Yesus yang lain berbicara dengan bahasa-bahasa yang dipakai seperti di negeri asal mereka (ayat 8). Mereka bertanya bagaimana mungkin mereka bisa mengerti satu sama lain. “Kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia.., pendatang-pendatang dari Roma, [..] kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah," kata mereka. Bagaimana kisah Pantekosta ini bisa kita pahami?
Bahasa adalah alat komunikasi sekaligus suatu dunia dengan segala isi dan makna di dalamnya. Namun bahasa, seperti dijelaskan William P. Alston, memiliki sejumlah kelemahan, seperti kesamaran (vagueness), ambigu (kegamangan), tergantung pada konteks, dan bisa menyesatkan. Kata “saya” yang diucapkan setiap orang memiliki makna dan dunia sendiri, karena “saya”-nya berbeda dengan “saya”-nya teman atau saudara. Kata “ya” bagi orang di Jawa bisa “ya” dan “tidak” sama seperti kata “nanti” atau “besok”. Misalnya, tulisan pada angkot “Sekarang bayar besok gratis” yang berarti selalu bayar, karena kapan besoknya? Bahasa yang seharusnya menyatukan sebagai tujuan akhir setiap komunikasi justru menjadi halangan karena orang tidak saling mengerti, karena tidak tahu bahasanya atau memahami makna yang hendak disampaikan.
Kembali ke Kisah Para Rasul tadi, kenapa saat Pantekosta orang di seluruh belahan dunia bisa saling berkomunikasi dan saling memahami. Tidak perlu heran, karena bahasa yang digunakan oleh para Rasul adalah bahasa Roh Kudus atau bahasa cinta kasih. Apapun bahasanya, lewat gerak tubuh (body language), senyuman, tatapan mata, maupun kata-kata dalam bahasa apapun, karena dijiwai oleh bahasa cinta kasih, semua menjadi paham dan mengerti. Banyak kali yang digunakan bukan bahasa cinta kasih, tetapi bahasa kebencian, kecurigaan, amarah dan dendam, pembunuhan, bahasa kekuasaan dengan main kuasa, bahasa penipuan dan ketidak jujuran. Bahasa cinta kasih yang bersumber dari Roh Kudus atau Roh Kristus yang menjiwai hati kita menjadi kita dapat memahami satu sama lain. Bahasa cinta kasih itu yang menyatukan Gereja, menyatukan keluarga dan menyatukan semua orang. Sudahkah kita menggunakan bahasa cinta kasih setiap hari?
Shusaku Endo, novelis Jepang menulis buku terkenal berjudul “Silence”, Hening (1996; Edisi Indonesia : 2008). Ceritanya, Shogun Ieyasu yang memusuhi orang Kristen. Pada tahun 1614 ia mulai mengusir para misionaris dan menganiaya gerombolan Kirishitan (Kristen). Penyiksaan terhadap orang Katolik dilakukan yang tentu menjadi salib bagi 300.000 orang Katolik pada waktu itu. Salib itu makin bertambah besar sesudah Pemberotakan petani Shimabara karena pajak tinggi dan penindasan dari mereka yang berkuasa. Tuhan dimana? Itu pertanyaan umat Katolik waktu itu. Dengan latar belakang Jepang abad ke-17 novel ini digelar. Alkisah Pater Sebastian Rodrigues, Jesuit dari Portugal diutus untuk membantu gereja setempat di Jepang sekaligus mencari jejak rekannya Pater Ferreira yang “hilang” karena tidak tahan menanggung siksaan dari para algojo Shogun.
Siksaan yang paling bengis sebagai hukuman mati adalah ana-tsurushi. Tubuh orang hukuman diikat erat sampai setinggi dada dan satu tangan dibiarkan bebas kemudian digantung dengan kepala ke bawah dari tiang ke dalam lubang yang biasanya diisi kotoran atau sampah. Bibir lubang sejajar dengan lutut. Supaya darah bisa tetap mengalir, bagian kening diiris sedikit dengan pisau. Mereka yang telah digantung dua atau tiga hari lalu menyangkal imannya menyatakan bahwa siksaan lainnya (dipenggal atau dibakar hidup-hidup) tidak bisa menyamai siksaan hebat dan perlahan-lahan dari hukuman tersebut. Tuhan dimana? Para martir Jepang dapat menjawabnya, termasuk Pater Rodrigues ketika harus menghadapi para algojo. Dikisahkan Pater itu seperti melihat wajah Yesus yang memberi peneguhan, “Saat kau menderita, aku ikut menderita bersamamu. Aku akan selalu dekat denganmu, sampai pada akhirnya”.
Cerita novel itu dapat menggambarkan Doa Imam Agung Kristus (Yoh 17: 20-26) untuk menjawab, “Tuhan Dimana”. “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku [..] ( ayat 24),” demikian Yesus berdoa. Tentu, sebuah doa yang sangat indah. Tuhan dimana? Bukan kini bukan karena “ana-tsurushi” , tetapi banyak hal yang seperti menyiksa kita sekarang ini. Ketika hidup kita terasa kurang ini dan itu. Ketika sakit tak kunjung sembuh sehingga menderita. Ketika mencari nafkah dan hidup jujur menjadi sulit. Ketika anggota keluarga penuh masalah dan tidak memahami diri kita. Ketika hidup terasa membosankan, terasing, dan tidak jelas arah dan tujuannya. Ketika menjadi tua dan sakit-sakitan. Tuhan dimana? Tuhan bersama kita! Itu ditegaskan Yesus dalam doa-Nya dalam Injil hari ini. Sudahkah kita menyadari “Tuhan bersama kita” setiap hari? Atau pertanyaan yang lebih dalam, Sudahkah kita mengimaninya? Marilah kita berdoa mohon iman yang teguh agar kita tidak hanya berani mati tetapi juga berani hidup sebagai orang Katolik yang sejati.
@TheKakek: cowok yang kuat itu bukan yang bisa bengkokin linggis, tapi yang mampu jadi penopang cewek dikala sedih :|
Kata-kata di atas diambil dari sebuah tweet yang dituliskan di twitter. Yang menulis seorang pria, yang pastinya dia sendiri tidak bisa membengkokkan linggis :)
Tapi penggalan kalimat berikutnya benar adanya. Pria harus bisa jadi penopang wanita di kala sedih.
Para pria sejati tentunya bisa lebih dari itu dong ya. Tidak usah menunggu sang istri sedih. Pria sejati, sebagai 'pemimpin yang melayani' bisa melakukan hal-hal super dibandingkan pria-pria biasa.
Mari kita baca Filipi 2:3-4 "Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."
Mungkin biasanya kita menafsirkan ayat-ayat tersebut adalah dalam hubungan kita dengan sesama. Kita lupa bahwa 'istri' adalah sesama kita juga :(
Walaupun di dalam keluarga, kita adalah 'raja', kita diminta Tuhan untuk memperhatikan kepentingan istri juga. Sudah/belum ya? Puji Tuhan jika Anda sudah melakukannya.
Sebagai bahan introspeksi, coba kita lihat bagaimana seorang suami bisa memperhatikan kepentingan istri di kehidupan pernikahannya:
Sepulang kerja, pakailah waktu selama sepuluh menit untuk memberikan perhatian khusus untuk istri Anda, sebelum Anda membuka sms, periksa email atau menyalakan TV.
Jika Anda melihat istri Anda kelelahan, masaklah untuk makan malam. Pepatah Cina mengatakan "Bicara saja tidak membuat nasi menjadi matang". Kalau Anda tidak bisa masak, ajak ke rumah makan dong ya :)
Pergilah mengunjungi mertua Anda di kala istri menghendakinya, karena begitulah cara benar untuk menghormati istri Anda, yaitu menghormati keluarga besarnya.
Pergilah bersama istri Anda ke supermarket, mal atau toko baju kesayangannya. Pertahankan sikap riang sepanjang waktu. Kalau mengantar, tapi muka cemberut, kan tidak bagus juga :)
Ringan tangan untuk ikut mengganti popok, ajak anak-anak bermain, dan memandikan anak-anak Anda yang masih kecil. Membantu istri dalam hal-hal kecil begini, gampang kan?
Biarkan istri Anda yang memilih acara televisi dan memegang remote.
Bersama istri pergi menonton film yang disukai wanita. Tapi jangan tidur di bioskop :)
Selesaikan perbaikan rumah yang ia minta untuk Anda selesaikan.
Sarankan kepadanya untuk bersantai dengan membaca buku atau mandi sementara Anda membersihkan dapur.
.... dst (Anda lebih tau daripada saya cara men-servis istri Anda)
Banyak hal tidak enak dan mengkhawatirkan dalam hidup ini? Hidup ini kemana dan mau apa sesudah hidup kita ini sering amat mengkhawatirkan. Belum lagi soal-soal keseharian dari masalah mencari nafkah, kesehatan sampai masa depan anak-anak yang membuat orang tidak nyaman dan bersedih. Orang yang bersikap fatalistik hanya pasrah saja. Begitulah hidup, kata mereka, ada senang, ada susah, ada sehat dan sakit. Ada untung bisa juga buntung alias rugi. Ada masa muda, ada masa tua renta yang hanya menunggui hari-hari terakhir. Orang beragama sering mencari mudahnya dengan menyerahkan semuanya kepada “Yang di atas”. Mulai dari kejadian yang menyenangkan sampai-sampai kesalahan sendiri yang membawa petaka semuanya dianggap karena ketentuan dari Atas. Begitu mengkhawatirkan dan tidak pastikah hidup kita ini?
Tapi Injil hari ini memberi titik terang pada kita semua. Yesus menyatakan, “Tetapi Penghibur, yaitu RohKudus yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku. Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang Kukatakan kepadamu” (Yoh 14: 26). Roh Penghibur dalam hati kita akan menyatakan bahwa hidup kita sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan. Apa saja hiburan atau jaminan dari Roh itu? Roh Penghibur akan menyatakan bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Hidup dan karya Yesus menjadi jaminan bahwa hidup kita sebagai manusia tidak akan sia-sia. Tuhan Sang Pencipta yang menciptakan kita di dunia akan menyelamatkan kita semua. Bagaimana keselamatan Tuhan itu terwujud dalam hidup kita masing-masing? Marilah kita mohon kepada Allah Roh Kudus, Penghibur kita agar apapun kejadian dan peristiwa yang kita alami, kita memahami dan menemukan karya keselamatan Tuhan dalam kehidupan kita setiap hari. Pemahaman akan karya keselamatan dalam hidup kita pribadi yang ditunjukkan Roh Kudus akan membuat kita merasakan damai dan sejahtera dan jauh dari segala kekhawatiran dan rasa takut. Tentu saja rasa damai dan sejahtera itu harus menjadi motivasi untuk tetap berusaha dengan bekerja tanpa mengenal putus asa bagi peningkatan kualitas hidup kita.
Di negara ini kejujuran dan kesetiaan semakin langka, sebaliknya keserakahan dan kemunafikan semakin merajalela; sebagai hasilnya permusuhan, perceraian dan korupsi terjadi dimana-mana. Tidak mudah membedakan siapa yang salah dan siapa yang benar karena keadilan bisa dibeli, bahkan koruptor yang sudah dihukum pidanapun masih tetap membantah tanpa merasa bersalah!
‘Orang-pandai’ berlomba mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa peduli orang lain, bahkan tidak segan mengorbankan sesama, karena harta berlimpah membuat orang merasa aman dan yakin bisa memenuhi semua kebutuhannya! Benarkah mereka bebas masalah? Bukankah mereka lebih rawan kurang waktu-kurang perhatian, rawan narkoba, rawan menjadi sombong dan juga rawan ke neraka karena [..] lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."? (Mat 19:24).
Sebagai pengikut Kristus yang rela berkorban untuk melakukan kehendak Bapa dan rela menderita demi memberi teladan kepada kita, seharusnya kita sadar bahwa harta duniawi bukanlah tujuan melainkan hanya sarana untuk memuliakan Allah. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka. (kis 14:22-23).
Oleh karena itu sangat relevan perintah Yesus yang paling mendasar ini: Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh 13:34-35). Allah menciptakan dunia dengan sumber daya alam cukup berlimpah untuk menghidupi semua penghuninya! Namun kelimpahan itu belum cukup memuaskan nafsu orang-orang rakus! Bagaimana bisa cukup kalau segelintir orang merampas, mencuri dan menyimpan sumber daya itu untuk dirinya sendiri dengan membiarkan sebagian besar orang lain menderita kekurangan dan kelaparan? Satu-satunya solusi adalah dengan berbagi! Maka mari kita amalkan program APP KAJ 2013 yang baru lalu: Makin beriman, makin bersaudara, makin berbelarasa dengan aksi nyata berbelarasa terutama bagi mereka yang berkekurangan!
Kesederhanaan seorang penjual nasi uduk yang super laris (dagangannya ludes dalam beberapa jam) bisa menjadi contoh kerelaan berbagi dengan sesama! Dia tidak berminat memperbesar omzetnya karena sudah merasa cukup dengan rejeki yang diterimanya, sekaligus untuk memberi kesempatan kepada penjual nasi uduk lain agar juga mendapat bagian!
Marilah kita ambil bagian dalam komunitas yang makin berbelarasa, komunitas yang memancarkan kemurahan hati Allah sehingga makin banyak orang merasakan rahmat Allah, dan pada akhirnya kita juga boleh menikmati janji Allah. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (Why 21:3-5).
Pergumulan manusia dalam menjalani kehidupan yang fana ini tak jarang seperti sebuah ironi; seringkali orang menantang ‘alam’ dengan sengaja! Bukankah semua pelajar tahu bahwa malas belajar akan berakibat hasil ujian tidak memuaskan? Bukankah semua perokok tahu bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan? Mengapa orang sepertinya sengaja memilih yang buruk? Demikianlah karena penuh dengan iri hati orang Yahudi menegarkan diri untuk menolak Allah! Mereka tidak mau mendengarkan nasihat St. Paulus yang mengajarkan Firman Allah supaya mereka tetap hidup dalam kasih karunia Allah.[…] ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: "Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai keujung bumi." (Kis 13:45-47).
Demikianlah bangsa-bangsa lain menerima anugerah lebih dahulu karena keselamatan dari Allah tidak gagal atau berhenti karena penolakan oleh bangsa terpilih yang murtad; Allah rela bekerjasama dengan siapapun yang berkehendak baik untuk mewartakan karya keselamatan yang telah dilaksanakan dengan sempurna oleh Sang Putra. Dia tak segan mencari dan menuntun domba-domba yang lelah dan tersesat, memberi kelegaan kepada yang berbeban berat. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu. (Yoh 10:27-30).
Pada Minggu panggilan ini marilah kita berdoa agar diberi hikmat, kerelaan dan kekuatan untuk menyambut panggilan Allah yang bersemi pada diri dan anak-anak kita karena tuaian memang banyak, tapi pekerja sedikit.
Ketentraman dalam kehidupan kekal yang dijanjikan Allah digambarkan dalam penglihatan Yohanes yang menerima wahyu Allah. Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka. (Why 7:16-17).
Sukacita itu sudah tersedia bagi orang percaya! Kita sudah menerima janji itu. Sanggupkah kita berjuang mempertahankan milik yang berharga itu dengan memelihara iman?"Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!" (ayat 12).
Menyadari atau tidak, hampir setiap saat kita dihadapkan pada pilihan: dari yang paling sederhana seperti misalnya apakah mau sarapan atau mandi dulu, apakah mau lewat jalan tol atau jalan biasa; sampai yang lebih serius seperti menentukan pilihan sekolah/jurusan pendidikan anak, memilih jodoh, sampai memilih iman yang akan menentukan ‘nasib’ di akhirat!
Ada pilihan yang diambil tanpa dipikir karena sudah rutin, ada pula yang perlu pertimbangan mendalam karena punya dampak besar! Dampak besar bisa dalam arti mempunyai nilai ekonomi tinggi, menentukan masa depan, atau bahkan menentukan keselamatan jiwa!
Sebagai pengikut Kristus, tentunya kita tahu bahwa untuk memperoleh hidup kekal kita harus melakukan kehendak Bapa dengan segala konsekuensinya! Siapkah kita dikucilkan oleh masyarakat karena menentang atau menolak korupsi? Beranikah kita dimusuhi lingkungan kerja karena mempertahankan kejujuran? Kalau kita menganggap bahwa kehidupan kekal adalah yang paling berharga, tentu kita tidak segan berkorban untuk mendapatkannya seperti yang dilakukan oleh para Rasul yang tanpa ragu bersaksi, […] "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia”. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia." (Kis 5:29-32). Bahkan mereka merasa sukacita walaupun disesah karena merasa dianggap layak untuk ikut mengalami penderitaan seperti Sang Idola!Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (ayat 41).
Allah sangat mengasihi kita dan tidak menginginkan satu dombapun hilang. Dia tahu bahwa sangat banyak dombanya yang masih berkeliaran, merana dan tersesat. Diperlukan banyak tangan dan usaha untuk membawa domba-domba ini kepada jalanNya! Allah tidak memilih manusia super untuk menggembalakan domba-domba yang merana itu, tapi menunjuk manusia sederhana bekas nelayan kasar yang telah menyangkalNya tiga kali. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Yoh 21:17).
Semakin banyak kita berhutang dan hutang itu dihapuskan, semakin besar rasa syukur dan hutang budi yang kita rasakan! Kalau kita mau hitung-hitungan perihal dosa, mungkin bisa kita pakai perumpamaan Yesus (Mat 18:23-35), bahwa nilai kesalahan kita kepada Allah sebesar 10,000 Talenta sedangkan nilai kesalahan sesama kepada kita hanya 100 Dinar (1 Talenta = 6,000 Dinar), maka apabila Allah telah menghapus dosa kita, tentunya kitapun harus mengampuni dosa sesama kita! Dengan analogi yang sama, dalam kondisi apapun dan dalam keadaan yang bagaimanapun, tentu seharusnya kita lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia!
Sesungguhnya pilihan itu tidaklah sulit; lantas, kita mau pilih yang mana?
Iman atau kepercayaan kepada seseorang tidak datang begitu saja; tentu ada alasannya, ada motivasinya! Ada yang merasa punya ‘chemistry’ cocok, ada yang dipicu oleh kekaguman pada yang dipercaya, ada yang ikutan karena tertarik pada janji-imbalan-ganjaran yang akan diperoleh, dsb. Semua punya dasar logika atau pertimbangan untung-rugi; prinsipnya kalau membawa manfaat dunia-akhirat mengapa tidak? Kondisi ini dapat dibaca dari sikap Santo Tomas yang tidak mau menerima penjelasan Rasul lain yang dianggap tidak logis: "Kami telah melihat Tuhan!". Kitapun sering lebih mengandalkan logika berpikir, tanpa menyadari bahwa kecerdasan nalar kita amat terbatas bila dibandingkan dengan kebesaran Allah, jalan pikiran kita sering menuntut bukti fisik seperti jawaban Santo Tomas ini […] "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku kedalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku kedalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yoh 20:25).
Para murid Yesus yang berantakan tercerai-berai waktu melihat Sang Idola menyerahkan diri mati disalib sudah kehilangan pegangan dasar logika untuk mempertahankan imannya. Mereka berkumpul bersama untuk mengumpulkan sisa-sisa iman dan keberanian menghadapi situasi yang sangat mencekam itu. Maka betapa penuh semangat dan sukacita mereka waktu Tuhan menampakkan diri untuk menguatkan dan mengutus mereka! Setelah dasar logika itu terlampaui, iman mereka sudah tidak terbendung lagi! Para murid Yesus sudah tidak membutuhkan perhitungan untung-rugi, aman-bahaya, jauh-dekat atau siang-malam; suka cita dan semangat untuk bersaksi memberitakan Kabar Baik itu terus menggebu sehingga jumlah mereka terus bertambah dengan cepat. Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan mereka membawa orang-orang sakit keluar, kejalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka. Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan (Kis 5:14-16).
Bagi pengikut Kristus, iman atau percaya bukanlah hal sepele karena menyangkut keselamatan jiwa! Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. (Rm 10:10). Percaya mempunyai konsekuensi mau mendengarkan, mentaati dan mengikuti perintah dari yang dipercayai itu! Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya. (1Yoh 2:28). Iman tidak muncul begitu saja, karena itu, perlu keberanian dan komitmen untuk menerima konsekuensinya, termasuk ikut menderita bersama Kristus! Beranikah kita menerima tantangan itu?
Yesus bersabda:[...] “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yoh 20:29). Beranikah kita percaya kepada-Nya? Apakah masih perlu bukti fisik?
Bagi kita yang telah berkali-kali mengikuti perayaan Minggu Palma, peristiwa disambutnya Yesus secara meriah pada saat Ia memasuki kota Yerusalem seringkali terasa sebagai suatu parodi. Orang-orang yang menyambut kedatangan Yesus sebagai Mesias itu terlihat sangat konyol dan menyedihkan, mereka mengharapkan Yesus akan menjadi raja, mengalahkan penguasa saat itu yang dirasakan memberatkan hidup mereka, dan berharap Mesias akan mendirikan kerajaan baru yang akan membawakan kesejahteraan bagi hidup mereka. Akan tetapi, sayangnya harapan mereka tidak terkabul... sehingga beberapa hari kemudian, mereka pula yang meneriakan: “Salibkan Dia!” saat Yesus diadili di Yerusalem. Mereka sungguh tidak dapat mengerti bahwa kerajaan Allah yang dibangun Kristus bukanlah di dunia ini.
Akan tetapi tunggu dulu... saat kita mengangkat daun palma pada hari ini, baiklah kita merenungkan... apakah yang kita harapkan dari Kristus? Jangan-jangan harapan kita tidaklah jauh berbeda pula dengan orang-orang yang bersorak-sorak menyambut Kristus. Apakah yang kita inginkan agar Tuhan lakukan dalam hidup kita? Karena seringkali kita melihat Tuhan seakan-akan sebagai pemenuh kebutuhan kita belaka.
Mungkin ada baiknya kita belajar dari paus kita yang baru, yaitu paus Fransiskus yang nama aslinya adalah Jorge Mario Bergoglio dan menjabat sebagai Kardinal Argentina sebelumnya. Paus Fransiskus memilih namanya karena ia terinspirasi oleh santo Fransiskus Asisi, seorang santo besar dari abad ke-12 yang mengatakan pernah mendapatkan bisikan Tuhan: “Perbaikilah Gereja-Ku”. Selain itu, Fransiskus Asisi juga sangat terkenal karena hidupnya yang selalu sederhana, dan motto ajarannya: “Ajarkanlah Injil setiap saat, dan hanya bila perlu gunakanlah kata-kata”. Dan hal ini terbukti baik kepada Santo Fransiskus Asisi maupun paus Fransiskus, dimana mereka lebih banyak mengajarkan dengan tindakan yang berbela rasa daripada sekedar kata-kata belaka.
Mungkin itulah yang diinginkan Tuhan dari orang-orang yang melambai-lambaikan daun palma untuk menyambut kedatangan-Nya. “Perbaikilah gereja-Ku”, karena: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1 Kor 3:16. Dan juga: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Mat 5:16. Karena tanpa ketulusan iman: “ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”” Luk 19:41-42
Bacaan Injil pada hari ini sangat menarik, amat disarankan untuk membacanya kembali di rumah walaupun telah dibacakan oleh pastor pada hari ini.
Bacaan Injil kali ini dimulai dengan kisah tragis yang menimpa sebagian orang Israel pada masa itu. Dan yang menarik adalah tanggapan Yesus terhadap berita itu: “Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”
Sungguh suatu peringatan yang keras, bahkan amat keras, yang seolah-olah berkata bahwa kalau kita tidak bertobat maka kita akan mengalami nasib sial sedemikian buruknya, atau bahkan dalam cerita sebelumnya, akan dibunuh dengan kejam bila tidak bertobat. Adakah Tuhan kita Yesus Kristus adalah Tuhan yang begitu kejamnya? Saya rasa justru sebaliknyalah yang terjadi.
Bayangkanlah apabila kita pada suatu kesempatan pergi berjalan-jalan ke tempat wisata yang mempunyai jurang-jurang berbahaya, Tangkuban Perahu misalnya. Dan apabila tiba-tiba saja anak kita yang masih kecil berlari kearah jurang karena tertarik melihat pemandangan yang tidak biasa dilihatnya itu. Akankah kita akan memanggilnya dengan lemah lembut: “Nak, hati-hati, jurang di depanmu sangat berbahaya”, dan akankah dia akan berhenti dengan peringatan kita yang lemah lembut itu?
Secara alamiah, karena digerakan oleh rasa kasih sayang kepada anaknya, para orang tua akan berteriak sekeras-kerasnya untuk menghentikan anak itu, walaupun akibatnya si anak menjadi menangis karena merasa diancam atau dimarahi. Dan persis seperti itulah yang dilakukan Yesus kepada kita murid yang dikasihi-Nya, karena kita seperti anak kecil belum mengetahui betapa dalam dan berbahayanya jurang dosa di depan kita. Yesus perlu sekali berkata keras seperti itu, dan Ia juga berkata karena digerakan oleh kasih-Nya yang amat besar kepada kita.
Kemudian cerita berlanjut pada kisah tentang pemilik dan pengurus kebun anggur, dimana pemilik kebun memerintahkan untuk menebang pohan ara, sedangkan pengurusnya malah mempertahankannya. Seringkali pada kisah ini dengan cepat kita menganggap bahwa pemilik kebun adalah Allah Bapa, dan pengurus kebun adalah Yesus Kristus. Akan tetapi bukankah dalam Injil yang sama Yesus menggambarkan Allah Bapa sebagai ayah yang menunggui anaknya yang hilang untuk kembali pulang? Tentunya dalam kisah ini si pemilik kebun anggur bukanlah Allah Bapa.
Merujuk pada kisah “Penabur”, pemilik kebun adalah kita, dan kebun adalah hati kita, tempat kita menanamkan berbagai hal disitu. Seringkali kita ingin menanamkan hal yang baik dengan melakukan pelayanan, baik dengan menjadi pengurus ataupun pekerja. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, seringkali kita merasa dikecewakan dan merasa yang kita tanamkan tidaklah berbuah. Yesus ingin agar kita, selain bertobat dari melihat kedua kisah sebelumnya, Ia juga ingin agar kita tetap bertahan dalam tekad kita selalu berjalan mendekati Tuhan, apapun yang terjadi menimpa kita. Dan bukankah itu yang ingin dikatakannya kepada orang yang menceritakan berita buruk tadi kepada-Nya?
Sebuah perusahaan “Sales” selalu menyelenggarakan perjalanan gratis keluar negeri utk tenaga penjual yg berprestasi. Tahun ini para pemenangnya berangkat ke Macau dan London. Tahun depan ke Bangkok dan San Fransisco, Amerika Serikat. Apa alasan perjalanan keluar negeri ini ? Selain sebagai penghargaan atas prestasi kerja para Sales, juga utk memberi motivasi dlm aktivitas penjualan. Kerja seorang Sales tidaklah mudah. Ada seribu satu macam tantangan. Bahkan ada formula yg merumuskan : dari 10 calon pembeli, hanya 1 yg benar-benar membeli. Artinya hanya 10% ratio sukses dan 90% kegagalan. Namun impian atau gambaran akan kondisi finansial yg lebih baik serta jalan-jalan gratis keluar negeri bisa menjadi sumber kekuatan bagi para Sales menghadapi berbagai tantangan dan kegagalan dlm proses penjualan.
Dalam konteks inilah kita coba memahami injil hari ini yg berbicara ttg “Transfigurasi” (“Yesus dimuliakan di atas gunung” (Lk 9:28-36). Menurut tradisi, transfigurasi terjadi di atas gunung Tabor, di mana saat ini berdiri “Gereja Transfigurasi”. Peristiwa ini terjadi setelah Yesus memberitahukan ttg “jalan keselamatan” yg dipilihNya, yaitu melalui “penderitaan, wafat dan kebangkitan”. Pemberitahuan ini tentu saja mengejutkan, bahkan mungkin dpt membuat para murid mengundurkan diri. Oleh krn itu, Yesus membawa mereka ke atas gunung utk memberi kekuatan. Hanya 3 murid yg dibawa ke sana yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ini adalah 3 murid pertama yg dipilih Yesus (Lk 5:1-12). Mereka juga yg diajak Yesus ke Taman Getsemani (Mat. 26:37). Utk apa Yesus ke atas gunung ? Menurut Lukas, Yesus pergi utk berdoa. Gunung memang menjadi simbol tempat dari “Yang Mahatinggi”, sehingga menjadi lokasi yg pantas utk berkomunikasi dengan Allah. Bandingkan, Abraham mengurbankan anaknya kpd Yahwe di atas gunung Moria. Dan Musa menerima 2 loh batu dari Yahwe di atas gunung Sinai. Dalam situasi berdoa itulah Yesus mengalami “transfigurasi” - sebuah pengalaman spiritual yg tinggi. Dlm peristiwa itu muncul Musa dan Elia. Kedua orang ini mempunyai pengaruh besar dalam sejarah bangsa Yahudi. Musa yg memperkenalkan Hukum Allah dan Elia adalah Nabi terbesar. Jadi keduanya mewakili “Hukum dan para Nabi”. Yesus berbicara dgn mereka ttg perjalananNya ke Yerusalem utk “menderita dan wafat”. Mungkin minta restu dari dua Tokoh Perjanjian Lama tsb. Menyaksikan pengalaman yg menakjubkan itu, Petrus mengusulkan utk tetap tinggal di sana (“mendirikan kemah”). Tetapi Yesus kemudian mengajak mereka utk turun ke bawah. Dalam peristiwa itu, terdengar suara peneguhan dari surga :”Inilah Putra kesayanganKu” – sama seperti di saat Yesus dipermandikan di sungai Yordan (Lk 3:22). Ada catatan khusus pada injil Lukas, bhw Petrus dkk sempat tertidur (Lk 9:32). Apa yg dpt kita pelajari dari bacaan ceritera transfigurasi tsb ? Pertama, perlu keseimbangan dalam hidup ini. Setiap hal ada waktunya. Bdk Pengkotbah 3:1-8. Seperti Yesus : ada waktu mengajar, ada waktu bersama murid-muridNya, ada waktu berdoa kepada BapaNya. Kedua, tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Kisah orang-orang sukses menunjukkan bahwa tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. “No pain, No gain”. Tidak ada kebangkitan, tanpa kematian. Tidak ada Paskah, tanpa Jumat Agung. Penderitaan bukanlah akhir. Kegagalan bukan kiamat. Ketiga, kita harus selalu “berjaga”. Kalau Petrus dkk tetap tertidur, mereka tdk bisa menyaksikan peristiwa transfigurasi. Banyak peristiwa menakjubkan di dalam hidup ini yg lewat begitu saja krn kita seolah “tertidur”. Dunia ini begitu indah oleh cinta pasangan hidup kita; begitu hangat oleh keceriaan putra-putri kita; begitu akrab oleh persaudaraan dan persahabatan; begitu segar oleh alam nan indah. Tapi kita harus “membuka mata”, kita tidak boleh “tertidur”. Keempat, kita tdk boleh tinggal di atas gunung. Kita hrs turun. Kesuksesan tdk boleh membuat kita tetap tinggal “di atas gunung”. Kita hrs berani turun ke lembah, ke kaki gunung. Seperti Yesus, kitapun harus siap ke Yerusalem, bahkan ke Golgota. Itulah realita kehidupan yg harus kita hadapi. Namun kita percaya bhw akhir dari segalanya adalah kemuliaan. Kelima, transfigurasi Yesus adalah transfigurasi kita. Dalam kaca mata hidup beriman kita percaya bhw suatu saat kita juga akan “dimuliakan” bersama dengan Tuhan. Sama seperti yg ditulis Paulus dalam bacaan II : “Yesus akan mengubah tubuh kita yg hina menjadiserupa dengan TubuhNya yg mulia” (Fil 3:21). Dan janji Allah kepada Abraham seperti dalam bacaan I akan menjadi janji kepada kita juga (Kej. 15:5). Tetapi syaratnya seperti dalam bacaan II tadi : “kita harus berdiri teguh dalam Tuhan!” (Fil 4:1).
Abraham Lincoln lahir di Hardin County, Kentucky, Amerika Serikat, tgl 12 Pebr 1809. Dia mula-mula bekerja sbg buruh kasar di perusahaan kereta api, lalu pindah menjadi Steerman kapan laut, lalu pindah lagi menjadi penjaga toko, tukang pos dan akhirnya menjadi pengacara. Th 1830 dia mulai bisnis sendiri, namun gagal. Thn 1832 dia mencalonkan diri jadi anggota legislatif, tapi gagal. Th 1838 gagal dalam sebuah kontes menjadi Pembicara. Th 1840 gagal utk menjadi anggota Dewan Pemilih. Th 1843, gagal menjadi anggota Konggres. Th 1846 dilantik menjadi anggota Konggres tapi th 1848 gagal lagi untuk menjadi anggota Konggres berikutnya. Th 1855 gagal menjadi anggota Senat. Th. 1856, gagal menjadi Presiden AS. Th. 1858, gagal menjadi anggota Senat. Akhirnya th 1860 berhasil menjadi Presiden Amerika yg ke-16. Lincoln yg pernah dijuluki “orang gagal”, ternyata menjadi Presiden Amerika Serikat yg paling sukses. Berbagai cobaan yg menimpa Lincoln, membuat dia menjadi pribadi yg kuat dan tegar. COBAAN adalah istilah lain dari “tantangan, kesulitan, krisis, kegagalan, dlsb”. Cobaan adalah “tungku api” yg mengubah bongkah emas menjadi batang emas “murni dan mahal”.
Bacaan injil hari ini (Lk 4:1-13) mengenai Yesus dicobai. Cobaan itu terjadi ketika Yesus berpuasa 40 hari lamanya. Ada 3 jenis cobaan, yg ditulis oleh Lukas, yg saya singkatkan menjadi “3 K”. Pertama, Kekayaan atau kebutuhan fisik (“batu menjadi roti”-ayat 3). Cobaan ini sangat tepat, krn Yesus sedang lapar hebat. Kedua, Kekuasaan (“segala kuasa serta kemuliaan akan kuberikan kepadamu”-ayat 6). Ketiga, Ketenaran atau popularitas (“jatuhkan dirimu ..malaikat akan melindungimu” – ayat 9.10). Jawaban Yesus menghadapi cobaan-cobaan ini sangat jitu. Terhadap cobaan pertama, Yesus menjawab : “manusia bukan hidup dari roti saja” (ayat 4). Seperti teori Maslow, manusia tdk hanya punya kebutuhan “fisik” (sandang, pangan, papan, dlsb). Tapi juga kebutuhan akan “rasa aman, sosial, harga diri dan aktualisasi diri”. Terhadap cobaan kedua, Yesus menjawab : “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu” (ayat 8). Kekuasaan bisa berubah menjadi tirani jika mengandalkan kekuatan manusia, bukan kekuasaan Allah. Kekuasaan atau lebih tepat “jabatan” adalah “amanah”, yg hrs dijalankan sebesar-besarnya utk kepentingan orang banyak (“ad bonum commune”). Terhadap cobaan ketiga, Yesus menjawab : “Jangan mencobai Tuhan Allahmu” (ayat 12). Mengapa ? Krn cobaan ketiga pada dasarnya menawarkan “jalan pintas”. Jika sudah “tenar”, maka tujuan apa saja dpt diraih dgn mudah. Yesus disarankan utk mencari jalan pintas guna menyelamatkan dunia. Jelas, ini bertentangan dgn rencana Allah, yg ingin menyelamatkan dunia lewat “sengsara, wafat dan bangkit”. Lalu apa yg dapat kita pelajari dari bacaan hari ini ? Pertama, cobaan adalah bagian tdk terpisahkan dari hidup manusia. Tak ada satu manusiapun yg tidak pernah mengalami cobaan. Yesus juga demikian. Cuma kualitas dan kuantitasnya saja yg berbeda. Kedua, karena cobaan sesuatu yg lumrah, maka bukan cobaan itu yg penting, melainkan sikap kita menghadapi cobaan. Menghadapi cobaan, ada yg bersikap negatif, seperti : stress, panik, kecewa, marah bahkan putus asa. Sebaliknya, ada yg bersikap positif, seperti : tenang, coba introspeksi, mencari jalan keluar, minta pandangan orang lain, dlsb. Bersikap “positif” jauh lebih produktif daripada bersikap “negatif”. Ketiga, dalam menghadapi cobaan kadang-kadang kita bisa jatuh. Namun sikap Lincoln mengajar kita bahwa bukan “kegagalan” itu yg penting, tapi “bangkit kembali” setelah kegagalan. Justru orang yg mampu bangkit kembali setelah kegagalan, akan menjadi pribadi perkasa dan manusia unggul. Keempat, sebagai orang beriman, satu-satunya cara agar tahan menghadapi cobaan adalah dengan berpegang pada Firman Allah. Yesus mampu mengatasi cobaan dgn mengandalkan Firman Allah. Tak ada KEKUATAN yg paling hebat yg memampukan kita menghadapi cobaan apapun kecuali FIRMAN ALLAH. Di tengah materialisme, konsumerisme dan hedonisme saat ini hanya FIRMAN ALLAH, yg dapat menjaga kita tetap di jalan yg benar. Maka dengan berpegang pada Firman Allah, kita akan tetap berdiri teguh menghadapi cobaan apapun. Dan kalaupun kita akhirnya jatuh, maka Firman Allah pula yg akan menguatkan kita utk bangkit kembali. Maka tepatlah kata-kata Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini : “Firman itu dekat padamu, yaknidi dalam mulutmu dan di dalam hatimu” (Rom 10:8). Firmanlah yg menguatkan kita menghadapi cobaan. Semoga !!
Dalam bukunya “To see the unseen – Kisah di balik Damai di Aceh” Dokter Farid Husain menceriterakan ttg suka-dukanya dalam menyelesaikan konflik Aceh. Ketika Bpk Yusuf Kala menjadi Menko Kesra, Dirjen Pelayanan Medik Dept Kesehatan ini diutus utk membantu menyelesaikan konflik Ambon dan Poso. Dan di saat Yusuf Kala menjadi Wapres, dia diutus lagi utk membantu menyelesaikan konflik Aceh. Tugas itu tidak mudah, karena dokter Farid harus berkali-kali melobi delegasi GAM. Bahkan untuk tugas itu dia terpaksa masuk keluar hutan di Aceh untuk bertemu dengan keluarga pejuang GAM. Usahanya ini berhasil membangun hubungan emosional yg baik dgn delegasi GAM. Dan akhirnya GAM mau menandatangani pakta perdamaian dengan Pemerintah Indonesia dan mengaku sebagai bagian dari NKRI. Ini sebuah prestasi besar bangsa kita yg juga telah diakui dunia internasional.
Bacaan minggu ini berbicara ttg kisah panggilan atau lebih tepatnya kisah “pengutusan”. Dlm bacaan I (Yes 6:1-2a.3-8), dikisahkan ttg pengutusan Nabi Yesaya. Walau anggap diri tdk layak, Yesaya tdk berani menolak pengutusan Allah. Bahkan dgn suara lantang dia menjawab : “Inilah aku. Utuslah aku”. Dlm bacaan II (I Kor 15:1-11) Rasul Paulus menyinggung ttg pengutusannya menjadi “rasul”. Dia yg menganggap diri sbg “yg paling hina dari semua rasul, krn menganiaya umat Kristen” telah berubah menjadi Rasul yg besar. Dia diutus untuk mewartakan “Kristus yg telah menderita dan wafat krn dosa kita, telah dikuburkan, namun bangkit pada hari yg ketiga”. Dlm bacaan Injil, dikisahkan pula ttg panggilan dan pengutusan rasul-rasul angkatan pertama, yaitu Simon yg disebut Petrus, Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes (anak-anak Zebedeus). Mereka diutus untuk menjadi “penjala manusia”( Lk 5,10).
Kekristenan sulit dipisahkan dari “karya pengutusan”. Sejak Yesus memilih murid pertama sampai akhirnya Dia naik ke surga, “pengutusan” merupakan bagian utama dari strategi penyelamatan. Ketika memilih murid pertama, Yesus memberi mereka tugas pengutusan untuk menjadi “penjala manusia” (Lk 5:10). Dan sebelum naik ke surga Dia menegaskan lagi tugas pengutusan itu : “Pergilah,jadikanlah semua bangsa muridKu” (Mt 28:19). Ada beberapa faktor penting dari kisah “panggilan atau pengutusan”. Pertama, panggilan itu adalah “anugerah cuma-cuma” dari Allah, bukan karena “kehebatan” diri seseorang. Allah memanggil seseorang karena Allah “mengasihi” dia. Kedua, Allah memanggil orang dari latar-belakang yg berbeda-beda. Yesaya punya latarbelakang sebagai “staf ahli” dlm lingkungan kerajaan. Paulus sebagai “ahli agama Yahudi”. Sedangkan para rasul mempunyai latarbelakang bermacam-macam; ada yg nelayan, pegawai pajak, politikus, dll. Ketiga, Allah memilih seseorang utk sebuah “panggilan”, untuk sebuah “pengutusan”, bukan utk sebuah “profesi”. “Profesi” dan “panggilan” itu berbeda. Profesi biasanya dikaitkan dengan sebuah “keahlian” yg memberikan “penghasilan” dan “prestise”. Sedangkan “panggilan” dikaitkan dengan “pengabdian” dan “passion”. Keempat, ketika Allah memanggil seseorang, dia menyadari dirinya “tidak layak”. Bandingkan pengakuan Paulus yg mengatakan : “aku yang paling hina dari semua rasul” (I Kor 15:8). Atau Yesaya : “aku yg najis bibir”. Berhadapan dgn panggilan Allah, manusia menyadari dirinya “kecil”. Kelima, panggilan Allah tidak bisa ditolak. Bandingkan penolakan Yesaya yg mengaku “berbibir najis” atau Petrus yg “seorangberdosa” (Lk 5:8). Tetapimerekatetap dipilih Allah. Lalu apa pesan bacaan-bacaan hari ini untuk kita ? Sbg pengikut Kristus, kitapun diberi tugas pengutusan. Ke mana kita diutus ? Kita diutus ke dalam keluarga kita masing-masing, ke lingkungan kita, ke tempat kita bekerja, ke tengah masyarakat di mana kita menjadi warganya. Apa tugas pengutusan kita ? Menjadi “garam dan terang dunia” (Mat 5:12-14). Atau bersama Santo Fransiskus Asisi kita siap menjadi “Pembawa Damai” (lihat PS no.221). Ketika mengakhiri perayaan ekaristi hari ini Imam berkata : “Marilah pergi ! Kita diutus” dan kita tanpa ragu menjawab “Amin” artinya kita siap menjalankan tugas pengutusan tersebut. Maka bersama Nabi Yesaya kitapun dgn penuh keyakinan menjawab “Inilah Aku Tuhan. Utuslah aku!”
Hari Sabtu, tgl. 26 Januari yg lalu, saya menghadiri Seminar “SUCCESS IN 2013” bersama salah satu Motivator Enterpreneurship Indonesia :Valentino Dinsi. Dia mengaku berasal dari keluarga sederhana, namun kini berhasil mengelola bisnis milyaran rupiah. Pada awal seminarnya, Valentino menunjuk sebuah buku karangannya, yg menjadi “bestseller” dan telah mengantarnya menjadi seorang Milioner. Setelah mempromosi buku tersebut, dia mengangkatnya dan mengatakan : “siapa mau buku ini …siapa mau buku ini?” Itu diucapkannya berkali-kali dan anehnya .. tak satupun peserta yg jumlahnya 300 orang memberikan reaksi, termasuk saya. Sampai akhirnya ada seorang peserta yg berani berlari ke depan dan mengambil buku itu dari tangan Valentino. Dan peserta itu mendapatkan buku bestseller yg biasanya dijual seharga Rp. 75 ribu tersebut secara gratis. Peserta tsb melihat peluang yg ada, lalu keluar dari tempat duduknya yg nyaman, berlari ke depan di bawah sorotan ratusan pasang mata yg menyaksikannya, dan dengan penuh keyakinan mengambil buku bestseller itu.Peserta itu telah memanfaatkan sebuah “MOMENTUM” - sebuah peluang yg berharga. Banyak “momentum” yg ditawarkan kepada kita setiap saat, namun hanya sedikit orang yg berani mengambilnya.
Bacaan injil hari ini (Lk 4:21-30) merupakan kelanjutan dari injil minggu lalu (Lk 4:16-20). Setelah berpuasa 40 hari lamanya, Yesus kembali ke kampung halamanNya di Nazareth dan mengikuti Ibadat pada hari Sabath. Pada saat ibadat itu Yesus tampil ke mimbar untuk membaca Kitab Suci dan membawakan kotbah yg pertama. Semua orang yg hadir terpesona akan pribadi Yesus. Mereka “merasa heran akan kata-kata indah yg diucapkanNya” (Lk 4:22). Ternyata ceritera Lukas tidak berhenti di sini. Setelah ibadat selesai, umat yg hadir memaksa Yesus untuk membuat mukjizat. Dan karena keinginannya tak dipenuhi, mereka ingin membuang Yesus ke tebing jurang. Namun secara luar biasa, Yesus bisa menyelamatkan diri dan “pergi dari antara mereka” (Lk 4:30). Episode di dalam Rumah Ibadat ternyata terbalik 1800dibandingkan suasana di luar Rumah Ibadat. Kalau di dalam Rumah Ibadat mereka merasa heran dan kagum akan penampilan Yesus, tetapi di luar Rumah Ibadat mereka kesal dan marah kepada Yesus sehingga ingin membuangNya. Sikap ini tentu saja merugikan mereka sendiri. Mereka tidak berhasil menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus. Dan lebih jauh lagi, mereka kehilangan “YESUS”, karena Yesus akhirnya pergi dari antara mereka. Lalu apa yang dapat kita pelajari dari injil hari ini ? Pertama, kita tidak bisa memaksa Allah untuk melakukan mukjizat. Apa yg dilakukan Allah kepada kita semata-mata adalah “anugerah” dan “kasihNya”. Mukjizat yg akan terjadi dalam hidup kita bukan karena “kehebatan” dan “jasa” kita, melainkan karena “kebaikan” dan “kerelaanNya”. Iman kita kepada Allah tidak bergantung kepada ada atau tidak adanya mukjizat. Kasih Allah itulah yg melandasi hidup iman kita. Kedua, sikap di dalam rumah ibadat bisa bertolak-belakang dengan sikap di luar rumah ibadat. Umat di Nazareth merasa heran dan kagum ketika Yesus berada di dalam rumah ibadat. Mereka kagum akan kotbahNya yg begitu mempesona.Namun ketika di luar rumah ibadat, mereka ingin menjatuhkanNya ke tebing jurang. Sikap umat Nazareth tersebut mungkin tidak jauh berbeda dengan sikap pengikut Kristus saat ini.Identitas kita sebagai orang Kristen atau orang katolik hanya muncul di dalam gereja. Begitu di luar gereja, identitas itu menjadi kabur. Ketiga, hilangnya peluang untuk tinggal bersama Yesus.Tuntutan umat Nazareth agar Yesus mengadakan mukjizat membuat Yesus terpaksa meninggalkan mereka.Sikap egoisme umat Nazareth menyebabkan mereka bukan saja kehilangan momentum untuk menyaksikan “mukjizat”, tapi kehilangan momentum untuk mendapatkan “Yesus”.Yesus pergi dari antara mereka.Banyak momentum berharga di dalam hidup kita yg terpaksa hilang begitu saja, karena kita terlalu ingat diri atau memaksakan kehendak. Banyak orang yg tidak berani keluar dari “comfort zone” atau zona nyamannya untuk meraih peluang-peluang besar yg berada “di luar”.Banyak orang yg memilih kenyamanan semu dengan memilih jalan pintas. Momentum tinggal bersama dengan Yesus adalah jauh lebih berarti daripada menyaksikan mukjizat-mukjizatNya. Dengan kata lain, hidup bersama Yesus adalah mukjizat yg paling besar. Itulah MOMENTUM paling berharga dalam kehidupan kita sebagai orang beriman. Beranikah kita untuk menangkap MOMENTUM itu dalam kehidupan kita setiap hari ? Semoga !
Perbedaan merupakan kenyataankehidupan sehari-hari. Pria- wanita, tua-muda, kaya-miskin, pintar-bodoh,besar-kecil merupakanpengalaman hidup. Masih ditambah dengan perbedaanasal-usul (orangPontianak,Sunda, Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah)perbedaan kebangsaan(orangIndonesia, Amerika, Arab, Jerman), perbedaan agama, perbedaan budaya (desa-kota, modern-tradisional). Perbedaan itu sering mengundang konflik sampai menimbulkantindak kekerasan dan perang.Tidak selalu konflikkarena perbedaanitu disebabkan oleh niat jahat, tetapijuga karena perbedaan kepentingan,sepertipemilik perusahaan yang memadanggaji pegawai (upah buruh) sebagai pengeluaran perusahaan maka harus ditekan dan dikurangi. Bagi pegawaigaji atau upah adalah pemasukan untuk hidupnya sehingga harus meningkatagar makin sejahtera. Tetapi begitulah kehidupan memang berbeda-beda. Bayangkan saja kalau dunia hanya diisipria saja atau hanya diisi oleh pemilik perusahaan saja maka duniatidak akan jalan. Demikian pula dengan kehidupan menggereja. Banyak fungsidan perandi dalam paroki dan lingkungan yang berbeda-beda. Apakah perbedaan itujustrumenghidupkan kehidupan lingkungan atau parokikitaatau malahan membawakonflik dan memperlebar perbedaan? Bagaimana mendamaikan perbedaan-perbedaan itu agartidak menjadipertentangandan konflik? Bagaimana perbedaan itutidak hanya supaya tidak menjadi konflik tetapi menjadi saling memperkaya dalam kehidupanGereja,dalamkeluarga dan lingkungan?
Santo Paulus kepadaumat di Korintus mengibaratkan kehidupan gereja dan masyarakatsebagai tubuh.Banyak anggota badan tetapi menopang hiduptubuhyang sama.Kaki atau matayang sakit menyebabkan seluruh tubuh juga sakit.Dengan pembaptisan orang Katolik menjadi satu tubuh, yaitu tubuh Kristus atau Gereja. “Kamu semua adalah tubuh Kristusdan kamumasing-masing adalah anggotanya”, tegas Santo Paulus dalam I Kor 12: 27. Adaimplikasiethisdan sosialdari keberadaan kita sebagaisatu tubuh, yaitubahwamasing-masing anggota bertanggung jawab atas anggota yang lain.Satu anggota tubuh tidak bisa mengklaimmau hidup sendirikarenabergantung padahidup anggotayang lain.Untuk itu ia harusmemelihara hidupnya sendiridengan baik sehinggatidak menjadi beban anggota yang lain.Setiap anggota tubuh juga harusmau berbagi dengan anggotalain sehinggasemua anggotatetap dapat hidup dengan sehat.Setiap anggota tubuh peduli terhadap anggota yang lain agar dirinya tetap dapathidup dengan baik. Dengandemikian kendati banyak perbedaan, baik asal-usul,profesi,kemampuan,sifatdan karaktersetiap anggota gereja berbeda-bedatetapisemuanya mengusungkehidupan tubuh yang sama, yaitu Gereja. Oleh karena itu pertanyaannya, sudahkah kitabertanggung jawab atas hiduppribadi dan kehidupan bersama kita dengan bekerja giat dan mau berbagisertasaling membantu sesama yang memerlukan?
Agar kehidupan bersama menggereja atau menjemaat dapat berjalan banyak karunia diberikan kepada setiap anggotanya. “Ada rupa-rupa karunia tetapi satu Roh”, tulis Santo Paulus (I Kor 12:4). Ada karunia untuk memimpin paduan suara atau koor, ada karunia untuk menyembuhkan sebagai seorang perawat atau dokter. Ada pula karunia untuk pintar berbicara sehingga dapat menghibur yang lagi sedihd an putus asa sehingga menggerakkan untuk berbuat kebaikan. Ada karunia untuk mengorganisasi dan me-manage kegiatan dan orang sehingga rencana atau kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Ada karunia lain yang penting adalah karunia tenaga, waktu dan dana yang lebih. Rupa-rupa karunia itu kalau dijumlahkan menjadi Gereja kaya atau lebih tepat dikatakan mampu untuk berbuat sesuatu, baik membantu orang lain maupun menolong warga paroki atau lingkungannya sendiri.
Seperti anggota jemaat di Korintus, banyak karunia itu tidak membuat anggota gereja berjalan sendiri-sendiri, tetapi banyak karunia itu justru mempersatukan karena saling melengkapi, membawa umat pada rasa syukur kepada Roh, Si Pemberi Karunia yaitu Roh Kristus, Roh Cinta Kasih yang menjiwai kehidupan jemaat. Sayangnya, keberadaan karunia itu tidak disadari oleh semua orang. Anggota jemaat sering terpaku pada kesulitan dan kekurangan hidupnya sehingga tidak menyadari bahwa Roh selalu memberi karunia kepada setiap orang yang diteguhkan saat diri mereka dibaptis. Kalau ditanyakan, “Apa karunia Tuhan dalam hidupmu?” Mungkin perlu pikir-pikir dulu untuk menjawabnya padahal karunia itu nyata dalam kehidupannya. Oleh karena itu ada baiknya untuk bertanya pada diri sendiri apa yang Tuhan karuniakan dalam hidupku. Mungkin banyak karunia dan dari banyak karunia itu ada satu atau dua karunia yang menonjol pada setiap orang.
Karunia itu juga bukan untuk dibiarkan atau hanya dinikmati oleh orang yang bersangkutan. Karunia itu untuk membangun kehidupan gereja, membangun umat agar setiap orang dapat merasakan karya penebusan Kristus dalam hidupnya. Atau dapat dirumuskan dengan lebih sederhana agar cinta kasih Tuhan dapat dirasakan dalam hidup mereka. Dengan demikian karunia itu memiliki intensi atau tujuan yaitu sarana pelayanan (service) kepada sesama. Karunia itu juga jangan dibayangkan yang muluk-muluk, tetapi yang paling sederhana, seperti senyum yang tulus saat bertemu dengan orang lain sehingga orang merasakan keramahan dan persahabatan. Karunia itu juga tampak dalam menjalankan hidup keseharian dengan sabar, tidak mengeluh, dan gembira hati sehingga orang yang melihatnya menemukan rasa damai dan pelayanan yang tulus. Dengan demikian pertanyaan “Apa karunia Tuhan dalam hidupku yang dapat saya berikan untuk hidup menggereja?” menjadi penting
Baru-baru ini seorang teman bertanya, “Apa sih identitas orang Katolik selain bikin tanda salib dan rumahnya dipasangi salib?” Pertanyaan itu mudah dipahami karena di tengah arus formalisme agama dengan doa-doa dan aturan-aturan baku keagamaan yang sering ditawarkan sebagai alternatif bagi dunia yang lebih baik. Bahasa Latin dan lagu-lagu Gregorian sudah tidak segencar dipergunakan lagi. Lagu-lagu saat ibadat dan misa juga macam-macam dari yang bernada pop sampai lagu-lagu yang digali dari khasanah lagu daerah. Kehidupan menjemaat? Ada. Laris manis kalau diadakan doa Rosario atau Novena. Ramai kalau Natalan atau Paskahan. Tetapi, sepi dan sunyi bila ibadat Prapaskah atau bulan Kitab Suci. Apa identitas lain yang lebih khasat mata? Gaya rambut atau tampang dengan pakaian bergaya orang Timur Tengah atau Yahudi pasti tidak dikenal di lingkungan orang Katolik. Lalu apa lagi?
Adabaiknya kembali ke asal usul kita yaitu saat kita dibaptis sebagai orang Katolik. Seperti dalam Injil hari ini ketika orang banyak dibaptis dan Yesus juga dibaptis “lagit terbuka dan turunlah Roh Kudus” dan “terdengarlah suara dari langit, ‘Engkaulah Anak-Ku yang Ku-kasihi kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3: 21-22). Nah, sudah lebih jelas bukan. Orang yang dibaptis akan menerima Roh Kudus dan Tuhan, Allah Bapa berkenan kepada mereka. Sebagai sama-sama orang yang dibaptis dan dibimbing oleh Roh Kudus yang sama, mesti menjadi identitas orang Katolik. Roh yang membimbing itu tentu tidak tampak, tetapi nyata dalam perbuatan yang jauh dari egoisme, tindakan kekerasan, pemaksaan . Perbuatan yang jauh dari menistakan diri untuk menuju perbuatan mulia yang sesuai dengan martabat manusia sebagai putra-putri Allah Bapa, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama. Perbuatan seperti apa? Selain tanda salib, ibadat, misa dan doa-doa tadi karena perbuatannyalah orang Katolik menjadi terlihat sebagai pribadi maupun kelompok. Kebaikan hati dan kepedulian kepada sesama yang susah, miskin, dan menderita menjadi ciri dan identitas sebagai orang Katolik. Karena orang Katolik lemah lembut, berempati dan rela membantu orang lain maka Allah Bapa berkenan. Perkenanan Allah itu menjadi hati orang Katolik menemukan damai dan kebahagiaan hidup. Marilah kita menyadari identitas yang tidak sekedar lahiriah sebagai orang Katolik dengan memperkuatnya dalam kata dan perbuatan baik setiap hari
1Yoh. 2:3-11
Kristus pengantara kita
2:3. Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.
2:4 Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.
2:5 Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.
2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.
2:7. Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar.
2:8 Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.
2:9 Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.
2:10 Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.
2:11 Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.
Mzm. 96:1-2a,2b-3,5b-6
96:1. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!
96:2 Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari.
96:3 Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.
96:5 Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit.
96:6 Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.
Luk. 2:22-35
Yesus disunat dan diserahkan kepada Tuhan
2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah",
2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
2:25. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
2:29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
2:35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
RENUNGAN
Ketika anak mereka berumur delapan hari Maria dan Yusuf menyunatkan anaknya, seperti yang ditetapkan dalam Hukum Taurat (Kej. 17). Bagi orang Yahudi sunat merupakan inisiasi yang membawa orang menjadi anggota umat pilihan Allah. Dalam Yoh. 4:22 dikatakan bahwa keselamatan datang dari bangsa Yahudi, karena itu Juruselamat manusia berasal dari keturunan Abraham. Sunat menandai bahwa Yesus, Juruselamat manusia, sungguh-sungguh berasal dari keturunan Abraham dan termasuk anggota umat pilihan Allah. Pada waktu itu juga anak itu diberi nama Yesus. Dalam bahasa Ibrani, Yoshua atau Yehoshua. Nama ini berasal dari kata yasha, yang berarti menyelamatkan. Anak yang dilahirkan oeh Maria itu harus diberi nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa.
Ketika tiba waktu pentahiran Maria, ia dan Yusuf membawa anak mereka ke Bait Allah untuk menyerahkan-Nya kepada Allah. Dalam Hukum Taurat terdapat perintah agar semua anak sulung binatang dan manusia dikuduskan (artinya, dikhususkan untuk dipersembahkan kepada Allah, Bil. 18:15-18). Untuk anak sulung binatang, pengudusan itu dilakukan dengan mempersembahkannya sebagai kurban bakaran kepada Allah. Anak sulung manusia harus ditebus karena tidak diper-sembahkan sebagai kurban bakaran. Besarnya tebusan adalah lima syikal perak. Satu syikal itu setara dengan 11, 4 gram; lima syikal setara dengan 57 gram. Tetapi, Yesus tidak dipersembahkan dengan cara ini. Persembahan Yesus itu dapat dibandingkan dengan persembahan Samuel. Anak itu dipersembahkan kepada Allah, dalam arti bahwa ia dipersembahkan untuk melayani Allah (bdk. 1Sam. 3). Dengan demikian, secara resmi Yesus dipersembahkan kepada Allah untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Menurut pemahaman orang Yahudi pada masa itu, yang sulung adalah yang paling baik, maka layak dipersembahkan kepada Allah. Belajar dari kebiasaan ini, kita.