Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan I: Yeh. 2:2-5; Bacaan II: 2Kor. 12:7-10; Bacaan Injil: Mrk. 6:1-6.

RAHMAT DI BATAS NALAR

 

Tahun 1980 ada film drama komedi yang fenomenal. Judulnya Gods must be Crazy. Pada suatu hari Xi, warga suku Hoansi, menemukan botol Cocacola, di kampung mereka, di gurun Kalahari, Afrika. Rupanya botol itu dibuang dari pesawat terbang. Xi dan para tetangganya merasa takjub. Karena bentuknya unik. Karena banyak gunanya. Termasuk untuk memukul kepala. Dari situ mereka menarik kesimpulan. Botol itu hadiah dari para dewa.
Begitulah alur orang percaya pada “yang di atas”. Bermula dari keheranan dan ketakjuban. Bahwa ada sesuatu yang luar biasa. Bahkan sedemikian luar biasa, sehingga nalar tak mampu mencernanya. Kok orang bisa hidup. Kok banyak ekosistem yang saling terjalin, yang memungkinkan manusia hidup. Kok dalam semesta, yang terbentuk dari ledakan energi, setelah sekian miliar tahun, bisa muncul manusia. Yang bisa membuat “burung besi”, dan seterusnya. Rasa takjub itu membawa manusia ke batas nalar dan logika. Tak bisa menjawab pertanyaan “kok bisa”. Maka dia melompati batas itu. Menjadi percaya. Bahwa ada Yang ADA. Di atas segala yang menakjubkan itu.
Injil hari ini memotret orang-orang yang berada di batas itu. Di batas logika. Mereka terheran-heran. Takjub. Kok ada manusia Yesus yang sedemikian “sakti”. Bisa menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Hanya saja, mereka berhenti pada titik itu. Mereka takjub tetapi tidak go beyond. Tidak menjadi percaya. Yesus pun heran. Mengapa mereka tidak percaya.
Gereja percaya bahwa menjadi percaya bukan urusan akalbudi semata-mata. Percaya pada Allah melalui Yesus adalah juga urusan kepekaan terhadap rahmat. Tuhan sudah mewahyukan diri. Turun ke dunia. Dalam Yesus. Roh Tuhan sudah ada di dalam setiap hati. Disebut Roh Kudus. Itulah rahmat. Yang membantu setiap manusia melompati batas nalar. Yang dengan-Nya manusia bisa melihat “tanda-tanda”. Bisa “melihat Tuhan.”
Maka sejatinya yang beriman dan percaya adalah mereka yang peka. Mengizinkan rahmat dan Roh Kudus bekerja. Membantu kita. Melihat dunia dan berbagai tanda. (her)