Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan I: Kis 2:1-11  Bacaan II: 1Kor. 12:3b-7,12-13  Bacaan Injil : Yoh 20:19-23

PENTAKOSTA

 

Pada saat Roh Kudus turun atas para rasul di hari Pentakosta, dikatakan ada bunyi seperti tiupan angin keras yang turun pada rumah dimana para rasul berkumpul.
Kemudian orang-orang Yahudi yang saleh berkumpul untuk mendengarkan para rasul. Apakah yang membuat orang-orang Yahudi yang saleh itu berkumpul? Bila hanya suara tiupan angin saja, belum tentu mereka berkumpul, apalagi tentunya mereka orang-orang yang mempunyai urusan dan kesibukan masing-masing sehingga seharusnya belum tentu sempat untuk berkumpul, jadi pastinya ada sesuatu yang istimewa pada suara hembusan itu. Kita tentu ingat pada waktu pertama kali Allah menciptakan manusia, yang dilakukan Allah adalah “menghembuskan nafas hidup” kepada tanah liat yang dibentuk oleh-Nya. Sehingga suara hembusan angin saat Roh Kudus datang tentulah memanggil manusia untuk datang, karena suara Roh adalah suara hembusan nafas kehidupan. Kemudian Roh Kudus juga telah diturunkan kepada kita dalam baptisan dan krisma, apakah dengan sudah hadirnya Roh Kudus di dalam diri kita juga membuat orang-orang berkumpul? Bila tidak, mungkin masih ada sesuatu yang masih kurang tepat pada diri kita.
Karenanya, hembusan nafas seperti apakah yang keluar dari diriku? Apakah nafas yang menghidupkan, menggembirakan, memberi kelegaan dan harapan, menghibur dan memerdekakan, ataukah sebaliknya yang keluar dari diri kita adalah hembusan nafas kematian, berupa keluhan, kekesalan, celaan, kemarahan, putus asa, atau ketidakpuasan? Tak heran bila kita merasa Roh Kudus jarang hadir pada diri kita, bila yang kita hembuskan sehari-hari adalah nafas kematian, dan yang kebanyakan hadir di sekitar kita tentunya juga adalah orang-orang kurang bernafaskan kehidupan. Mungkin kita berharap untuk hadir juga disitu pada peristiwa Pentakosta untuk mendengarkan suara Roh Kudus.
Akan tetapi bukankah Roh Kudus sesungguhnya sudah terus menerus bersuara bagi kita, hanya kita tidak dapat mendengarkan Dia, karena sudah terlalu berisiknya berbagai suara dan keinginan dalam diri kita. Inilah saatnya berhenti sejenak, meninggalkan semuanya, dan mendengarkan suara berhembusnya Roh Kudus. -- AJ