Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Natanael Kevin Dwantara

Pakailah Aku sebagai AlatMu

 

 

Natanael Kevin Dwantara, sang pemeran Yesus saat acara tablo Jumat Agung, 30 Maret 2018, akrab dipanggil Nael di kalangan teman sekitarnya. Peran yang unik dan langka inilah yang menarik perhatian jurnalis website Paroki Monika untuk mengulik lebih dalam tentang dirinya.

Nael adalah pengurus OMK yang cukup aktif di gereja untuk menyelenggarakan berbagai acara dengan tujuan melayani Tuhan. Salah satu kegiatannya adalah pengurus OMK di bagian Tour De Sanmon, mengunjungi rumah-rumah di lingkungan untuk menyentuh hati anak muda yang belum aktif melayani Tuhan. Sungguh mulia pelayanannya!

Pria kelahiran Jakarta, 23 Desember 1995 ini bertempat tinggal di dekat ICE BSD, Tangerang. Pernah berkuliah di Universitas Atma Jaya, Jakarta, juga pernah bersekolah di Emmanuel School of Mission Manila. Tinggal dengan Ibunda dan kedua adik sedangkan Ayahanda telah dipanggil Tuhan ke sisi-Nya karena serangan jantung. Walaupun telah ditinggalkan oleh Ayahanda, Nael tidak pernah mengeluh dan terus sabar menjalani hidup dengan ibu dan kedua adik yang masing-masing masih duduk di bangku pendidikan. Adik yang pertama masih di kelas 2 SMK, sedangkan Adik yang kedua di bangku perkuliahan di Sentul, “Mereka tidak pernah mengeluh sih”, kata Nael. Lagipula adik yang kedua juga dibiayai dan digaji di sana, fasilitas juga memadai.

Saat Ayahanda dipanggil Tuhan, memang Nael sempat shock, sekilas terpikir untuk melanjutkan kuliah atau langsung kerja saja karena kejadian yang terlalu mendadak ini. Memikirkan tentang Ibu yang berprofesi sebagai guru SD, takut membebani Ibu yang seorang diri untuk membiayai kehidupan 3 orang anak, apalagi menyadari bahwa diri adalah seorang anak sulung yang wajib menjadi contoh bagi kedua adiknya. Sementara mencari pekerjaan tetap sebagai admin, Nael mencari nafkah dengan bergabung dengan taksi online.

 

Di tengah kesibukannya yang cukup padat, Nael tidak lupa untuk tetap bersyukur dan melayani. Kisah yang paling menarik adalah ketika Nael merasakan peran sebagai Yesus dalam acara Tablo di gereja Santa Monika BSD, Tangerang. Memang bukan keinginannya untuk mengambil peran tersebut, “tadinya memang ditunjuk oleh Karel Bryan, PIC Tablo OMK SanMon 2018”, tapi karena tidak ada yang bersedia, maka sikap totalitas melayani Tuhan muncul dan Nael bersedia untuk mengambil peran penting tersebut. “Pakailah aku sebagai alat-Mu ya Tuhan dalam memerankan diri-Mu.”, demikian pengakuan Nael saat diwawancarai.

Dalam jangka waktu kurang dari satu bulan, seiring dengan bulan pertobatan, puasa dan pantang yang diawali dengan hari Rabu Abu, persiapan pemeran Yesus pun disiapkan. Latihan dijalani 2 kali seminggu dan menjadi 4-5 kali seminggu menjelang hari pementasan. Berbagai hambatan dilalui mulai dari kurangnya flooring dalam gereja karena banyaknya kegiatan yang dilakukan di dalam gereja sampai microphone  yang kurang keras ketika pementasan. Di situasi saat ini pun Nael menjalani berpuasa untuk mendalami peran Yesus dalam dirinya.

“Salibnya terasa lebih berat daripada yang ada di latihan”, aku Nael. Nael tetap tidak mengeluh dan tetap menyelesaikan tugasnya dalam memerankan peran itu. Tempat Yesus terjatuh pun disesuaikan, jatuh pertama kali aman, jatuh kedua kali aman, BRUKK! Jatuh ketiga kali, salah mengambil teknik jatuh dan salib pun menimpa kepalanya. Saat itu freeze dan ia merasa saat itu sangat lama, terpikir bagaimana menjadi Yesus yang sesungguhnya, pastilah sangat berat. Selalu teringat pada tujuannya, Nael tetap melanjutkan tugasnya sampai selesai.

Nael bersyukur saat pementasan sudah selesai. Ia berharap pementasannya dapat menggambarkan bagaimana Yesus menderita sampai wafat di kayu salib, serta menyerahkan sisanya kepada Tuhan dalam menggerakkan hati umat untuk meneladani Yesus sebagai pedoman hidup kita sebagai umat Katolik yang aktif melayani Tuhan. (KT)