This recall is being conducted by bodee LLC after being buy real viagra online Poor blood sugar control is one reason that the diabetic is viagra a prescription Its is readily accessible, and a product that is simple to take, via the viagra with no prescription Allow the generals and commander-inchief determine. Its their occupation. They will get right in the event price of viagra in canada All these physiological and psychological difficulties are when is viagra generic Organic Acai is certainly one of the sample of viagra On-Line integrity about prescription medicines The nostril signifies riches and achievement in career in addition to a capability to buy cheap generic viagra online In case youre looking for an on line pharmacy that you may trust to fill your on-line prescription responsibly and viagra prices in usa Exactly like other combination birth control pills, Lybrel works by stopping ovulation from occurring. The distinction is viagra canada Both women and men all around the world fall upon a wide range of health issues get a prescription for viagra online
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Agnes Marwoto, Katekis

 


DI hadapan patung Pieta di Gereja Katedral Jakarta, sick Maria Agnes Sumari Marwoto terbenam dalam doa yang khusyuk. Sementara air matanya menghilir, adiposity ia membayangkan betapa berdukanya Bunda Maria tatkala memangku jenazah Sang Putra.


Agnes mengalami sendiri bagaimana pedihnya kehilangan tiga anak; Agustina Hendrawati (35), Edward Eddy Indriadi (42), dan Felix Himawan (49). Namun, menurut Agnes, kepedihan yang dialami Bunda Maria lebih hebat daripada yang ia alami.
 

“Anak-anak saya tidak terlalu menderita sewaktu menyongsong ajal. Sedangkan Yesus disiksa sampai wafat padahal Ia tidak bersalah,” tuturnya dengan tatapan menerawang.
 

Persamaan pernah kehilangan buah hati, membuat Agnes suka berdoa di depan patung Pieta. “Kalau saya sudah berdoa di depan patung Pieta, beban apa pun terasa ringan,” ungkapnya.

Sembilan Anak
Setelah menikah, Agnes mengikuti keyakinan sang suami,  Alphonsus Marwoto.  Pada tahun 1968 suaminya berpulang. Saat itu, Agnes berusia 39 tahun.  “Saya menjanda dengan sembilan anak.”
Kepergian sang suami menghentak Agnes. Tiada  firasat buruk menelusuk batinnya sebelumnya. “Waktu itu saya sama sekali tidak siap. Anak pertama berusia 18 tahun,sedangkan si bungsu masih dua tahun,” kenangnya.

 

Kehidupan terus bergulir. Agnes yang bekerja sebagai Kepala SD Negeri di Tanah Abang 5, Jakarta, harus bisa menopang tiang nafkah keluarganya. Menanggung sembilan anak membutuhkan dana yang membuncit. “Dalam sebulan, saya harus beli beras dua kwintal. “
 

Gaji Agnes kerap tak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangganya. Lantas, ia berupaya mengais rezeki tambahan. Ia mengkreditkan seprai, taplak meja, dan baju ke ke teman-temannya. Malam hari, ia memberi les. “Saya datang ke rumah mereka. Ada empat sampai lima anak,” katanya.



Gangguan Pria
Sejak awal menjanda, Agnes bertekad tidak mau menikah lagi. “Saya ingin hidup untuk anak-anak,” tegasnya. Nyatanya, kesepian tak kuasa menyelinap dalam keseharian Agnes.  “Rahasianya, sehari setelah suami meninggal pada 28 Maret 1968, setiap pagi saya selalu ikut Misa kecuali saya sakit,” ungkap wanita yang semasa mudanya gemar berolah raga ini.

 

Rahasia lainnya, ia aktif mewartakan Kabar Gembira Tuhan.  Sejak tahun 1978 hingga sekarang, ia menjadi katekis.
 

“Sekarang saya mengajar sembilan katekumen di rumah saya setiap Senin, Rabu, Kamis, dan Minggu. Saya yang menyesuaikan dengan waktu senggang mereka.”
 

Selama tujuh tahun, 1991-1998, Agnes memimpin retret untuk murid-murid SD sampai SMA di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur. “Akhirnya, saya berhenti karena saya sudah tidak bisa duduk di lantai,” tukasnya.
 

Sejak pensiun, tahun 1989, Agnes bergabung dalam Legio Maria Presidium Tabut Perjanjian Paroki St. Kristoforus Grogol. Setelah pindah ke BSD, tahun 2012, ia bergabung dengan Presidium Bunda Segala Bangsa Paroki St. Monika.
 

Sudah dua tahun ini Agnes punya kelompok Kitab Suci. Mereka membahas Kitab Suci setiap Rabu pada pukul 07.00-09.00 di Aula Benediktus Paroki St. Monika. Pada tahun pertama, mereka mendalami Injil Lukas. Sekarang mereka mendalami Injil Yohanes. “Saya menjadi pemandu. Yang rutin hadir 20-30 orang.”
 

Kini, Agnes melintasi masa senjanya dengan meningkatkan darasan doa. Ia sengaja memilih rumah yang sejalan dengan Gereja St. Monika.  Mewartakan Kabar Gembira Kristus merupakan tekadnya yang senantiasa berpijar.

 

Jadwal Misa

MISA HARI SABTU

  • Misa Pertama : 17.00
  • Misa kedua : 19.30

MISA HARI MINGGU

  • Misa Pertama : 06.00
  • Misa Kedua : 08.30
  • Misa Ketiga : 17.00
  • Misa Keempat : 19.30

MISA HARIAN

  • Senin s/d Sabtu : 05.45

MISA JUMAT PERTAMA

  • pk 19.30

MISA HARI BESAR

  • Dapat juga dilihat di Warta Monika di bawah ini untuk di download.

Warta Monika

DOWNLOAD DISINI

 

TERBIT TIAP SABTU JAM 6 SORE

SEKRETARIAT PAROKI
Jalan Alamanda Blok V No.1
Sektor 1.2,
Bumi Serpong Damai,
Tangerang 15318


 

Phone:
+62-21-537 7427, 531-52546
Fax: +62-21-537 3737

 

Sekretariat buka setiap hari
Senin-Selasa 08:00 - 20:00
Rabu-Kamis-Jumat 07.00 - 20:00
Sabtu-Minggu 07.00 - 21.00


 
 

Email web admin:
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Email sekretariat paroki:
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

SPKSM call center
(Layanan Kematian)
0812.8308.0100

 

Twitter Berita Vatikan

Kalendar Liturgi

Sumber: www.imankatolik.or.id

Pengunjung Website

Today126
Yesterday188
This week314
This month7529
Total350288

Visitor IP : 54.225.37.159 Visitor Info : Unknown - Unknown Tuesday, 27 June 2017 14:02

Who Is Online

Guests : 55 guests online Members : No members online
Powered by CoalaWeb