Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Agnes Marwoto, Katekis

 


DI hadapan patung Pieta di Gereja Katedral Jakarta,Maria Agnes Sumari Marwoto terbenam dalam doa yang khusyuk. Sementara air matanya menghilir,ia membayangkan betapa berdukanya Bunda Maria tatkala memangku jenazah Sang Putra.


Agnes mengalami sendiri bagaimana pedihnya kehilangan tiga anak; Agustina Hendrawati (35), Edward Eddy Indriadi (42), dan Felix Himawan (49). Namun, menurut Agnes, kepedihan yang dialami Bunda Maria lebih hebat daripada yang ia alami.
 

“Anak-anak saya tidak terlalu menderita sewaktu menyongsong ajal. Sedangkan Yesus disiksa sampai wafat padahal Ia tidak bersalah,” tuturnya dengan tatapan menerawang.
 

Persamaan pernah kehilangan buah hati, membuat Agnes suka berdoa di depan patung Pieta. “Kalau saya sudah berdoa di depan patung Pieta, beban apa pun terasa ringan,” ungkapnya.

Sembilan Anak
Setelah menikah, Agnes mengikuti keyakinan sang suami,  Alphonsus Marwoto.  Pada tahun 1968 suaminya berpulang. Saat itu, Agnes berusia 39 tahun.  “Saya menjanda dengan sembilan anak.”
Kepergian sang suami menghentak Agnes. Tiada  firasat buruk menelusuk batinnya sebelumnya. “Waktu itu saya sama sekali tidak siap. Anak pertama berusia 18 tahun,sedangkan si bungsu masih dua tahun,” kenangnya.

 

Kehidupan terus bergulir. Agnes yang bekerja sebagai Kepala SD Negeri di Tanah Abang 5, Jakarta, harus bisa menopang tiang nafkah keluarganya. Menanggung sembilan anak membutuhkan dana yang membuncit. “Dalam sebulan, saya harus beli beras dua kwintal. “
 

Gaji Agnes kerap tak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangganya. Lantas, ia berupaya mengais rezeki tambahan. Ia mengkreditkan seprai, taplak meja, dan baju ke ke teman-temannya. Malam hari, ia memberi les. “Saya datang ke rumah mereka. Ada empat sampai lima anak,” katanya.



Gangguan Pria
Sejak awal menjanda, Agnes bertekad tidak mau menikah lagi. “Saya ingin hidup untuk anak-anak,” tegasnya. Nyatanya, kesepian tak kuasa menyelinap dalam keseharian Agnes.  “Rahasianya, sehari setelah suami meninggal pada 28 Maret 1968, setiap pagi saya selalu ikut Misa kecuali saya sakit,” ungkap wanita yang semasa mudanya gemar berolah raga ini.

 

Rahasia lainnya, ia aktif mewartakan Kabar Gembira Tuhan.  Sejak tahun 1978 hingga sekarang, ia menjadi katekis.
 

“Sekarang saya mengajar sembilan katekumen di rumah saya setiap Senin, Rabu, Kamis, dan Minggu. Saya yang menyesuaikan dengan waktu senggang mereka.”
 

Selama tujuh tahun, 1991-1998, Agnes memimpin retret untuk murid-murid SD sampai SMA di Wisma Samadi, Klender, Jakarta Timur. “Akhirnya, saya berhenti karena saya sudah tidak bisa duduk di lantai,” tukasnya.
 

Sejak pensiun, tahun 1989, Agnes bergabung dalam Legio Maria Presidium Tabut Perjanjian Paroki St. Kristoforus Grogol. Setelah pindah ke BSD, tahun 2012, ia bergabung dengan Presidium Bunda Segala Bangsa Paroki St. Monika.
 

Sudah dua tahun ini Agnes punya kelompok Kitab Suci. Mereka membahas Kitab Suci setiap Rabu pada pukul 07.00-09.00 di Aula Benediktus Paroki St. Monika. Pada tahun pertama, mereka mendalami Injil Lukas. Sekarang mereka mendalami Injil Yohanes. “Saya menjadi pemandu. Yang rutin hadir 20-30 orang.”
 

Kini, Agnes melintasi masa senjanya dengan meningkatkan darasan doa. Ia sengaja memilih rumah yang sejalan dengan Gereja St. Monika.  Mewartakan Kabar Gembira Kristus merupakan tekadnya yang senantiasa berpijar.