Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

 

Johana Maria Nurlin Saroja, Pemulasara Jenazah

 

BERITA kematian seorang warga Katolik membangunkan Johana Maria Nurlin Saroja dari lelapnya. Waktu menujukkan pukul dua dini hari. Lantas, ia bersama suaminya, Sapto, segera mendatangi keluarga yang berduka di kawasan Cisauk.


Ternyata, almarhumah yang berusia sekitar 50 tahun hanya hidup berdua dengan seorang adiknya yang menyandang keterbelakangan mental. Kondisi rumahnya sungguh memprihatinkan. Gelap gulita tanpa penerangan, barang-barang serba berantakan dan tampak kotor. Sementara bau tidak enak menyengat indera penciuman. Nurlin dan sang suami mengerahkan keberanian untuk memasuki rumah beraura muram tersebut.


Kondisi jenazah almarhumah tak kalah memprihatinkan. Ia meninggal di kamar tidurnya dengan mata terbelalak sementara kedua tangan dan kakinya terentang. “Kelihatan menakutkan,” kenang Nurlin saat ditemui di pelataran gereja, Senin, 12 September 2016.


Nurlin segera merapikan jasad almarhumah dan membersihkan ruangan sebisanya. Lalu, ia kembali ke rumahnya untuk melanjutkan tidurnya yang terpenggal. Sekitar pukul 07.30, ia kembali lagi ke rumah almarhumah untuk melanjutkan bersih-bersih rumah hingga keluarganya tiba dari Jakarta.

 

Bagi Nurlin, melayani jenazah dan keluarga yang berduka mengusung kebahagiaan tersendiri. Untuk menghalau rasa takut, ia selalu berdoa. Selain itu, ia berusaha menjalin komunikasi dengan jenazah yang dilayaninya, serta berpikir positif. “Saya percaya Bunda Maria dan Tuhan  Yesus ada bersama saya dalam setiap pelayanan,” tandasnya.

 


Jatuh Iba


Nurlin mulai terlibat dalam pemulasaraan jenazah pada tahun 2011. Awalnya, ada tetangganya – non-Katolik-- meninggal dunia. Kondisi ekonominya sungguh minim.  “Suaminya merasa kesulitan memberitahu kepada pengurus gerejanya karena lokasinya sangat jauh,” beber Nurlin.


Dari pengalaman itu, benaknya menggugat; bagaimana jika hal serupa terjadi pada umat Katolik di lingkungannya?  Sewaktu masih lajang, ibu empat anak ini pernah mengikuti Kursus Pramurukti di RS Panti Rapih Yogyakarta. “Dalam kursus itu diajarkan tahapan-tahapan merawat jenazah,” ungkapnya. Alhasil, Nurlin punya pengetahuan bagaimana seharusnya merawat jenazah.


Sekitar tahun 2011, Seksi Pelayanan Kematian Santa Monika ( SPKSM  ) menyelenggarakan rekoleksi tentang memandikan dan merawat jenazah. Setiap lingkungan diminta mengirimkan warganya untuk hadir. “Saat itu, saya langsung mendaftarkan diri,” lanjut mantan karyawati di RS Panti Rini Yogyakarta ini.


Selanjutnya, anggota Komunitas Tritunggal Mahakudus ini berhimpun ke dalam SPKSM. Ia aktif melayani setiap kali ada keluarga yang berduka, khususnya yang berlokasi di Cisauk dan sekitarnya.


Melalui SPKSM, banyak buah-buah kebaikan yang bisa ia tuai. “Saya mengenal banyak orang dan belajar berorganisasi sehingga pelayanan lebih terarah,” ungkap wanita kelahiran Toraja ini. Lebih dari itu, pengalamannya melayani jenazah dan keluarga yang berduka telah membuka mata hatinya akan kasih Allah yang sungguh berlimpah. Dan ia sunggu semakin dikuatkan dalam karya pelayanan. Di samping itu, ia merasa seperti mempunyai keluarga baru di SPKSM. 


Bila SPKSM menyelenggarakan pertemuan, Nurlin berupaya hadir. Alumni KPKS St. Paulus Angkatan ke-24, yang lulus September 2016  ini bisa menyerap berbagai sharing dari rekan-rekannya terkait pelayanan jenazah.


Nurlin mengemukakan bahwa setiap kali ada berita kematian warga Paroki St. Monika, dengan sendirinya ada anggota SPKSM yang bergerak.  “Kalau terjadinya di lingkungan atau wilayah saya, saya selalu terlibat.” Pada umumnya keterlibatan Nurlin mulai dari memandikan jenazah, merawat hingga mengantarnya ke pemakaman.


Warga Lingkungan Bartolomeus Cisauk ini pun berupaya menjaring umat agar jumlah anggota SPKSM  bertambah. Pertama-tama ia mengajak dulu umat yang berminat. “Kalau ada umat yang meninggal, saya ajak untuk melihat-lihat atau hanya memegang handuk. Pelan-pelan, saya ajak untuk ikut merawat jenazah hingga akhirnya bisa menjadi rekan melayani.”
    

 

Minta Izin
 

Pada setiap kesempatan, Nurlin senantiasa bercakap-cakap dengan jenazah. “Saya minta izin memandikan jenazah Ibu ya supaya Ibu sudah segar saat bertemu Tuhan Yesus,”  ujarnya. Begitu pula bila proses memandikan jenazah telah usai, Nurlin tak lupa mengucapkan terima kasih.
 

Bagi Nurlin, bercakap-cakap dengan jenazah menjadi sebuah kebiasaan. “Ngobrol itu penting. Dengan mengobrol, saya merasa dikuatkan,” katanya. Kalaupun sempat ada rasa takut menghadapi jenazah, seketika perasaan itu berkelebat pergi...
 

Kadang Nurlin mendapati mulut jenazah sudah kaku ternganga. “Biasanya sambil saya rapatkan, saya terus berdoa Bapa Kami dan Salam Maria, lalu mulut jenazah bisa rapat.”
 

Nurlin pernah memandikan jenazah yang punggungnya masih berkeringat. Bahkan ketika ia mendadani jenazah tersebut, sepintas seperti ada hembusan napas samar. Nurlin pun terus berdoa sementara ia melanjutkan pelayanannya. “Almarhumah ‘kan sudah dinyatakan meninggal oleh dokter. Jadi, saya tetap menyelesaikan tugas saya.”
 

Rasa puas memenuhi dadanya setiap kali ia melihat jenazah sudah dimandikan, dirapikan, dan dirias. “Kalau jenazah tampak tersenyum, aduh bahagianya tiada tara...,” ucap Nurlin dengan paras berseri.
 

Sebagai pemulasara jenazah, tiada pernah ada rasa kapok menyinggahi batin Nurlin. Padahal, tak jarang berita duka itu datang pada saat ia sedang dililit kesibukan atau sudah terlelap. “Bahkan ketika saya sedang sibuk menyiapkan pesta Paskah, ada orang meninggal yang harus segera dilayani,” ungkap legioner Presidium Bunda Penolong Abadi Paroki St. Monika ini. Meski demikian, Nurlin mencanangkan tekad ingin melayani jenazah sampai kapanpun...