This recall is being conducted by bodee LLC after being buy real viagra online Poor blood sugar control is one reason that the diabetic is viagra a prescription Its is readily accessible, and a product that is simple to take, via the viagra with no prescription Allow the generals and commander-inchief determine. Its their occupation. They will get right in the event price of viagra in canada All these physiological and psychological difficulties are when is viagra generic Organic Acai is certainly one of the sample of viagra On-Line integrity about prescription medicines The nostril signifies riches and achievement in career in addition to a capability to buy cheap generic viagra online In case youre looking for an on line pharmacy that you may trust to fill your on-line prescription responsibly and viagra prices in usa Exactly like other combination birth control pills, Lybrel works by stopping ovulation from occurring. The distinction is viagra canada Both women and men all around the world fall upon a wide range of health issues get a prescription for viagra online
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

 

Johana Maria Nurlin Saroja, health Pemulasara Jenazah

 

BERITA kematian seorang warga Katolik membangunkan Johana Maria Nurlin Saroja dari lelapnya. Waktu menujukkan pukul dua dini hari. Lantas, view ia bersama suaminya, Sapto, segera mendatangi keluarga yang berduka di kawasan Cisauk.


Ternyata, almarhumah yang berusia sekitar 50 tahun hanya hidup berdua dengan seorang adiknya yang menyandang keterbelakangan mental. Kondisi rumahnya sungguh memprihatinkan. Gelap gulita tanpa penerangan, barang-barang serba berantakan dan tampak kotor. Sementara bau tidak enak menyengat indera penciuman. Nurlin dan sang suami mengerahkan keberanian untuk memasuki rumah beraura muram tersebut.


Kondisi jenazah almarhumah tak kalah memprihatinkan. Ia meninggal di kamar tidurnya dengan mata terbelalak sementara kedua tangan dan kakinya terentang. “Kelihatan menakutkan,” kenang Nurlin saat ditemui di pelataran gereja, Senin, 12 September 2016.


Nurlin segera merapikan jasad almarhumah dan membersihkan ruangan sebisanya. Lalu, ia kembali ke rumahnya untuk melanjutkan tidurnya yang terpenggal. Sekitar pukul 07.30, ia kembali lagi ke rumah almarhumah untuk melanjutkan bersih-bersih rumah hingga keluarganya tiba dari Jakarta.

 

Bagi Nurlin, melayani jenazah dan keluarga yang berduka mengusung kebahagiaan tersendiri. Untuk menghalau rasa takut, ia selalu berdoa. Selain itu, ia berusaha menjalin komunikasi dengan jenazah yang dilayaninya, serta berpikir positif. “Saya percaya Bunda Maria dan Tuhan  Yesus ada bersama saya dalam setiap pelayanan,” tandasnya.

 


Jatuh Iba


Nurlin mulai terlibat dalam pemulasaraan jenazah pada tahun 2011. Awalnya, ada tetangganya – non-Katolik-- meninggal dunia. Kondisi ekonominya sungguh minim.  “Suaminya merasa kesulitan memberitahu kepada pengurus gerejanya karena lokasinya sangat jauh,” beber Nurlin.


Dari pengalaman itu, benaknya menggugat; bagaimana jika hal serupa terjadi pada umat Katolik di lingkungannya?  Sewaktu masih lajang, ibu empat anak ini pernah mengikuti Kursus Pramurukti di RS Panti Rapih Yogyakarta. “Dalam kursus itu diajarkan tahapan-tahapan merawat jenazah,” ungkapnya. Alhasil, Nurlin punya pengetahuan bagaimana seharusnya merawat jenazah.


Sekitar tahun 2011, Seksi Pelayanan Kematian Santa Monika ( SPKSM  ) menyelenggarakan rekoleksi tentang memandikan dan merawat jenazah. Setiap lingkungan diminta mengirimkan warganya untuk hadir. “Saat itu, saya langsung mendaftarkan diri,” lanjut mantan karyawati di RS Panti Rini Yogyakarta ini.


Selanjutnya, anggota Komunitas Tritunggal Mahakudus ini berhimpun ke dalam SPKSM. Ia aktif melayani setiap kali ada keluarga yang berduka, khususnya yang berlokasi di Cisauk dan sekitarnya.


Melalui SPKSM, banyak buah-buah kebaikan yang bisa ia tuai. “Saya mengenal banyak orang dan belajar berorganisasi sehingga pelayanan lebih terarah,” ungkap wanita kelahiran Toraja ini. Lebih dari itu, pengalamannya melayani jenazah dan keluarga yang berduka telah membuka mata hatinya akan kasih Allah yang sungguh berlimpah. Dan ia sunggu semakin dikuatkan dalam karya pelayanan. Di samping itu, ia merasa seperti mempunyai keluarga baru di SPKSM. 


Bila SPKSM menyelenggarakan pertemuan, Nurlin berupaya hadir. Alumni KPKS St. Paulus Angkatan ke-24, yang lulus September 2016  ini bisa menyerap berbagai sharing dari rekan-rekannya terkait pelayanan jenazah.


Nurlin mengemukakan bahwa setiap kali ada berita kematian warga Paroki St. Monika, dengan sendirinya ada anggota SPKSM yang bergerak.  “Kalau terjadinya di lingkungan atau wilayah saya, saya selalu terlibat.” Pada umumnya keterlibatan Nurlin mulai dari memandikan jenazah, merawat hingga mengantarnya ke pemakaman.


Warga Lingkungan Bartolomeus Cisauk ini pun berupaya menjaring umat agar jumlah anggota SPKSM  bertambah. Pertama-tama ia mengajak dulu umat yang berminat. “Kalau ada umat yang meninggal, saya ajak untuk melihat-lihat atau hanya memegang handuk. Pelan-pelan, saya ajak untuk ikut merawat jenazah hingga akhirnya bisa menjadi rekan melayani.”
    

 

Minta Izin
 

Pada setiap kesempatan, Nurlin senantiasa bercakap-cakap dengan jenazah. “Saya minta izin memandikan jenazah Ibu ya supaya Ibu sudah segar saat bertemu Tuhan Yesus,”  ujarnya. Begitu pula bila proses memandikan jenazah telah usai, Nurlin tak lupa mengucapkan terima kasih.
 

Bagi Nurlin, bercakap-cakap dengan jenazah menjadi sebuah kebiasaan. “Ngobrol itu penting. Dengan mengobrol, saya merasa dikuatkan,” katanya. Kalaupun sempat ada rasa takut menghadapi jenazah, seketika perasaan itu berkelebat pergi...
 

Kadang Nurlin mendapati mulut jenazah sudah kaku ternganga. “Biasanya sambil saya rapatkan, saya terus berdoa Bapa Kami dan Salam Maria, lalu mulut jenazah bisa rapat.”
 

Nurlin pernah memandikan jenazah yang punggungnya masih berkeringat. Bahkan ketika ia mendadani jenazah tersebut, sepintas seperti ada hembusan napas samar. Nurlin pun terus berdoa sementara ia melanjutkan pelayanannya. “Almarhumah ‘kan sudah dinyatakan meninggal oleh dokter. Jadi, saya tetap menyelesaikan tugas saya.”
 

Rasa puas memenuhi dadanya setiap kali ia melihat jenazah sudah dimandikan, dirapikan, dan dirias. “Kalau jenazah tampak tersenyum, aduh bahagianya tiada tara...,” ucap Nurlin dengan paras berseri.
 

Sebagai pemulasara jenazah, tiada pernah ada rasa kapok menyinggahi batin Nurlin. Padahal, tak jarang berita duka itu datang pada saat ia sedang dililit kesibukan atau sudah terlelap. “Bahkan ketika saya sedang sibuk menyiapkan pesta Paskah, ada orang meninggal yang harus segera dilayani,” ungkap legioner Presidium Bunda Penolong Abadi Paroki St. Monika ini. Meski demikian, Nurlin mencanangkan tekad ingin melayani jenazah sampai kapanpun...

Jadwal Misa

MISA HARI SABTU

  • Misa Pertama : 17.00
  • Misa kedua : 19.30

MISA HARI MINGGU

  • Misa Pertama : 06.00
  • Misa Kedua : 08.30
  • Misa Ketiga : 17.00
  • Misa Keempat : 19.30

MISA HARIAN

  • Senin s/d Sabtu : 05.45

MISA JUMAT PERTAMA

  • pk 19.30

MISA HARI BESAR

  • Dapat juga dilihat di Warta Monika di bawah ini untuk di download.

Warta Monika

DOWNLOAD DISINI

 

TERBIT TIAP SABTU JAM 6 SORE

SEKRETARIAT PAROKI
Jalan Alamanda Blok V No.1
Sektor 1.2,
Bumi Serpong Damai,
Tangerang 15318


 

Phone:
+62-21-537 7427, 531-52546
Fax: +62-21-537 3737

 

Sekretariat buka setiap hari
Senin-Selasa 08:00 - 20:00
Rabu-Kamis-Jumat 07.00 - 20:00
Sabtu-Minggu 07.00 - 21.00


 
 

Email web admin:
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Email sekretariat paroki:
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

SPKSM call center
(Layanan Kematian)
0812.8308.0100

 

Twitter Berita Vatikan

Kalendar Liturgi

Sumber: www.imankatolik.or.id

Pengunjung Website

Today127
Yesterday188
This week315
This month7530
Total350289

Visitor IP : 54.225.37.159 Visitor Info : Unknown - Unknown Tuesday, 27 June 2017 14:06

Who Is Online

Guests : 69 guests online Members : No members online
Powered by CoalaWeb